Manfaatkan Peluang Bisnis dari Suporter Bola

Sabtu, 21 Juni 2014 - 20:16 WIB
Manfaatkan Peluang Bisnis...
Manfaatkan Peluang Bisnis dari Suporter Bola
A A A
JAKARTA - DI Indonesia, sepak bola dan fanatisme bagaikan dua sisi keeping mata uang koin yang tidak terpisahkan. Lihat saja di berbagai daerah, suporter berduyun-duyun datang ke tribun stadion untuk melihat dan mendukung tim kesayangannya bertanding di lapangan hijau.

Tribun stadion selalu dipenuhi oleh suporter yang rela datang ke stadion dengan segala daya upaya. Bukan hanya di kandang, partai tandang yang jauh pun diikuti oleh para suporter yang bergerak dalam jumlah massif mendukung tim kebanggaan mereka menjalani partai away.

Fenomena geliat para suporter ini tentu menjadi peluang bisnis yang menggiurkan untuk dibidik. Salah satu pebisnis yang sukses terjun usaha di seputar sepak bola ini adalah laki-laki bernama Arif Wisuda (25).

Dia beralasan serunya sebuah laga sepak bola sangat ditentukan oleh keriuhan fanatisme para suporter. Keberadaan mereka seakan menjadi riuh yang membuat pemain lebih bersemangat dalam bertanding.

"Fanatisme sepak bola di Indonesia memang sangat luar biasa. Inilah yang menjadi pemikiran saya. Pasti banyak sekali fans klub yang membanggakan tim-nya, pasti ingin sekali memiliki atribut tim yang disukainya. Maka saya memberanikan diri terjun di bisnis ini," kata dia, saat berbincang dengan SINDO, di Jakarta, akhir pekan ini.

Arief mengawali bisnis syal untuk para penggemar bola ini sejak 2010 kemudian produk syal rajutan ini diberi nama "Syal Supporter" dengan berbagai macam motif logo masing-masing klub baik dalam negeri maupun manca negara. Di antarannya, Barcelona, AC Milan, Inter Milan, Real Madrid, Manchester United dan Liverpool dan sebagainya.

Bahkan saat ini juga telah keluar syal supporter dengan motif dan logo bendera untuk penggemar piala dunia 2014 seperti Spanyol, Inggris, Brasil, Jerman dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Di bawah mereknya tersebut kemudian dia mencoba memasarkannya melalui beberapa cara di antaranya membuka distro bola di Kediri, Jawa Timur tempat asalnya.

Tidak hanya itu, Arif juga mempunyai strategi pemasaran yang jitu di antaranya melalui web, facebook dan media sosial lain seperti twitter. Strategi pemasaran ini akhirnya pemuda asal Kediri ini mampu mengembangkan bisnisnya hingga sekarang.

"Saya yakin dengan strategi ini berhasil karena jangkauan pemasarannya lebih luas. Beberapa kali saya dapat orderan dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Hongkong bahkan sampai ke Italia," tuturnya.

Syal Suporter, lanjut Arief dijual dengan harga yang bervariasi. Satu syal di banderol mulai dari Rp30.000 - Rp150.000. Harga tersebut disesuaikan dengan kerumitan desain dan jenis bahan yang digunakan.

“Pendapatan bersihnya sekitar 25-30% dari penjualan satu syal. Sementara untuk dikirim keluar negeri untungnya bisa lebih,” jelasnya.

Pembuatan syal dilakukan dua kali kali rajutan untuk menghasilkan produk yang lebih bagus. Bahkan, selain bekualitas lebih halus rajutan sesuai dengan standar ekspor.

Berjalannya waktu, bisnisnya terus berkembang. Peningkatan ini terlihat dari naiknya kapasitas produksi. Jika sebelumnya hanya menghasilkan 200 syal, kini dia berhasil memproduksi 500 syal bahkan bisa sampai 800 syal sepak bola setiap bulan. Jumlah tersebut belum termasuk produk lain seperti topi bola dan pernak pernik lainnya.

Kendati kapasitas produksi terus meningkat, Arief tak menampik persaingan di bisnis ini cukup ketat. Namun begitu, Arief optimis bahwa bisnisnya ke depan akan mengalani kemajuan yang lebih baik lagi.

“Selama kita bisa mempertahankan kualitas dan service prima ke konsumen saya yakin ke depan akan lebih baik,” katanya.

Ia optimis ke depan keuntungan yang bisa dinikmati dari bisnis atribut suporter sangat besar. Untuk bisa menikmatinya, produsen tak hanya fokus pada produksi, tetapi juga harus jeli melihat peluang.

“Bisnis yang pernik-pernik sepak bola tergantung momentum. Produsen harus mengikuti perkembangan jadwal dimulainya liga atau gelaran akbar sepak bola. Oleh karena itu, produsen harus cermat menghitung kapan mereka harus memproduksi dan menjual produk ke konsumen,” tutup Arif.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pengusaha: Pemerintah...
Pengusaha: Pemerintah Tidak Bisa Sendirian Menangani UMi
Danone Indonesia Tingkatkan...
Danone Indonesia Tingkatkan Kemampuan Digital dan UMKM Nasional
UMKM Diharapkan Naik...
UMKM Diharapkan Naik Kelas dengan Memanfaatkan Aplikasi Lokal
Pelaku Usaha Mikro Paling...
Pelaku Usaha Mikro Paling Rawan Bangkrut Saat Krisis Datang
UU Ciptaker Beri Kemudahan,...
UU Ciptaker Beri Kemudahan, Pemberdayaan dan Perlindungan bagi Pelaku UMKM
Omzet Tembus Rp5,7 Triliun...
Omzet Tembus Rp5,7 Triliun SRC Kembangkan Aplikasi untuk UMKM
Berita Terkini
Proses Pemeliharaan...
Proses Pemeliharaan dan Pengisian Galon Bermerek Dipastikan Penuhi Standar Industri
11 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Pimpin Pengembangan Ekosistem SAF di ASEAN
14 menit yang lalu
Wajah Baru Lotte Mart...
Wajah Baru Lotte Mart Wholesale Serang Tawarkan Pengalaman Belanja dan Kuliner dalam Satu Destinasi
22 menit yang lalu
Perkuat Ekonomi Desa,...
Perkuat Ekonomi Desa, Banten Jadi Proyek Percontohan Kedaulatan Pangan dan Energi
50 menit yang lalu
Purbaya Sebut Penyaluran...
Purbaya Sebut Penyaluran Bansos lewat Kopdes Arahan Langsung Prabowo
1 jam yang lalu
PLN EPI Kebut Ekosistem...
PLN EPI Kebut Ekosistem Biohidrogen, Optimalkan 60 Juta Ton Biomassa
1 jam yang lalu
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved