Pemanfaatan Biodiesel 20% Kurangi Impor BBM

Kamis, 17 Juli 2014 - 12:07 WIB
Pemanfaatan Biodiesel...
Pemanfaatan Biodiesel 20% Kurangi Impor BBM
A A A
JAKARTA - Pemanfaatan Biodiesel 20% (B20) saat ini bukan harapan lagi, karena hari ini dilakukan road test pada kendaraan bermotor oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Hal tersebut dikatakan Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konvervasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulayan dalam acara peresmian uji jalan (road test) pemanfaatan biodiesel 20% di kantor Kemeterian ESDM, hari ini.

"B20 bukan harapan lagi, kita sudah melakukannya. Ini program pemarintah yang tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No 25/2013 mengenai mandatori biofuel. Pada 2016 kita canangkan untuk mulai menggunakan B20, artinya 20% bahan bakar nabati di dalam solar. Itu sendiri sudah lama kita keluarkan pada 2013," ujarnya usai peresmian tersebut, Kamis (17/7/2014).

Menurutnya, road test bertujuan agar pelaksanaan di 2016 berjalan mulus, tidak ada lagi resistensi penolakan dari masyarakat. Namun, yang pasti road test tidak menghasilkan rekomendasi agar program penggunaan B20 ditunda.

"B20 harus tetap jalan. Kalaupun ada yang harus disesuaikan seperti pada mesin kendaraan, ya mesinnya yang harus mengikuti bukan peraturannya yang ditunda. Dan itu kenapa kita melibatkan Gaikindo dari jauh-jauh hari. Jadi program ini harus tetap jalan," ujar dia.

Beberapa perusahaan automotif turut digandeng seperti Toyota dan Chevrolet. "Baru dua itu, Honda belum. Toyota sudah diuji sampai 100 ribu km. Karena 40 ribu itu minimun uji test. Kalau ini berhasil, maka ketergantungan terhadap impor akan jauh berkurang, menghemat devisa, dan akan menciptakan lapangan kerja di dalam negeri," ujarnya.

Biodiesel ini, lanjut Rida, 100% diproduksi sendiri mulai dari penanamannya. Tidak ada ketergantungan dengan pihak lain. Jadi, kedaulatan energi dapat dilakukan dan lambat laun akan dibangun lebih kuat ke depan.

Selain itu, B20 juga dapat menghemat sekitar USD6 miliar. Pihaknya sedang mengevaluasi Mitsubishi, Toyota, Chevrolet. Pemerintah juga memantau atau monitoring di implementasinya.

"Secara teknis sebenarnya sudah berjalan. Implementasinya terkendala dalam hal pengadaan. Saya masih menunggu laporan kendalanya di mana, bisa jadi harganya atau infrastrukturnya. Bukan masalah pada produksi, tapi karena produsennya banyak," pungkas Rida.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
5 Langkah Pengembangan...
5 Langkah Pengembangan Bahan Bakar Nabati Jadi Strategi Ketahanan Energi Nasional
Seberapa Hijaukah Bahan...
Seberapa Hijaukah Bahan Bakar Nabati? Awas Klaim Menyesatkan!
Avtur Berbahan Minyak...
Avtur Berbahan Minyak Sawit Bukan Upaya Sehari, Ini Prosesnya
Menakar Nilai Ekonomis...
Menakar Nilai Ekonomis Bahan Bakar Pesawat dari Minyak Sawit
Ethanol untuk BBN Tanpa...
Ethanol untuk BBN Tanpa Cukai Bakal Jadi Magnet Bagi Dunia Usaha
Hasilkan Energi Ramah...
Hasilkan Energi Ramah Lingkungan, Legislator Ungkap Urgensi Bangun Pabrik Bioethanol
Berita Terkini
Defisit APBN Mei 2026...
Defisit APBN Mei 2026 Tembus Rp180,4 Triliun, Purbaya: Sangat Aman
20 menit yang lalu
Transaksi Digital Melonjak,...
Transaksi Digital Melonjak, Visa Tekankan Pentingnya Pengelolaan Risiko
46 menit yang lalu
Peringati Hari Lingkungan...
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, BRI Dorong Sadar Budaya Kelola Sampah melalui Green Action BRI Peduli
52 menit yang lalu
Rupiah Ambruk Tembus...
Rupiah Ambruk Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pengusaha Ritel Sport Jantung
1 jam yang lalu
Lindungi Konsumen, Pakar...
Lindungi Konsumen, Pakar UI Ingatkan Dampak Paparan BPA Galon Guna Ulang
1 jam yang lalu
IHSG Kembali Babak Belur...
IHSG Kembali Babak Belur Siang Ini, Nyungsep 2,53% ke 5.692
1 jam yang lalu
Infografis
Daftar 26 Jalan Tol...
Daftar 26 Jalan Tol yang Diskon hingga 20% saat Nataru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved