Dirut Garuda yang Baru Harus Naikkan Pendapatan
Jum'at, 22 Agustus 2014 - 14:02 WIB
Dirut Garuda yang Baru Harus Naikkan Pendapatan
A
A
A
JAKARTA - Pengamat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu menilai, yang akan menggantikan Emirsyah Satar sebagai direktur utama (dirut) PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) harus mampu menaikkan pendapatan perseroan.
Dia menilai hal tersebut sangat penting untuk meningkatkan keuangan Garuda ke depan. Pasalnya, saat ini utang perusahaan penerbangan pelat merah ini cukup besar yakni sekitar Rp2 triliun.
"Ini yang ganti Emir (Emirsyah Satar-Dirut Garuda saat ini) harus betul-betul orang yang bisa menambah revenue, kurangi cost dan berani mengurangi ekspansi," ujarnya di Jakarta, Jumat (22/8/2014).
Menurutnya, Garuda selama ini terlalu over ekspansi sehingga merugi sendiri pada intern perusahaan. Maka, jika pengganti Emirsyah Satar tidak dapat menaikan revenue dari perseroan, maka penyakit GIAA akan kembali lagi yaitu terlalu over ekspansi.
"Kalau orangnya yang ganti Emir tidak kompeten dan lemah, takutnya penyakit Garuda akan kembali lagi yaitu terus melakukan ekspansi," katanya.
Saat ini, Kementerian BUMN butuh waktu untuk mencari sosok dirut Garuda yang baru. Tujuannya untuk menggantikan Emirsyah Satar.
Kementerian memiliki persyaratan untuk posisi dirut Garuda Indonesia yang akan habis Oktober mendatang. Kementerian menginginkan agar sosok tersebut memiliki integritas dan terbebas dari korupsi serta mengerti keuangan.
Sekedar informasi, masa jabatan Emirsyah segera berakhir dan dia telah menjabat posisi orang nomor satu di Garuda selama dua periode, sejak 2005. Sebelum menjadi dirut Garuda, Emirsyah menjabat sebagai direktur keuangan di maskapai milik pemerintah tersebut.
Dia menilai hal tersebut sangat penting untuk meningkatkan keuangan Garuda ke depan. Pasalnya, saat ini utang perusahaan penerbangan pelat merah ini cukup besar yakni sekitar Rp2 triliun.
"Ini yang ganti Emir (Emirsyah Satar-Dirut Garuda saat ini) harus betul-betul orang yang bisa menambah revenue, kurangi cost dan berani mengurangi ekspansi," ujarnya di Jakarta, Jumat (22/8/2014).
Menurutnya, Garuda selama ini terlalu over ekspansi sehingga merugi sendiri pada intern perusahaan. Maka, jika pengganti Emirsyah Satar tidak dapat menaikan revenue dari perseroan, maka penyakit GIAA akan kembali lagi yaitu terlalu over ekspansi.
"Kalau orangnya yang ganti Emir tidak kompeten dan lemah, takutnya penyakit Garuda akan kembali lagi yaitu terus melakukan ekspansi," katanya.
Saat ini, Kementerian BUMN butuh waktu untuk mencari sosok dirut Garuda yang baru. Tujuannya untuk menggantikan Emirsyah Satar.
Kementerian memiliki persyaratan untuk posisi dirut Garuda Indonesia yang akan habis Oktober mendatang. Kementerian menginginkan agar sosok tersebut memiliki integritas dan terbebas dari korupsi serta mengerti keuangan.
Sekedar informasi, masa jabatan Emirsyah segera berakhir dan dia telah menjabat posisi orang nomor satu di Garuda selama dua periode, sejak 2005. Sebelum menjadi dirut Garuda, Emirsyah menjabat sebagai direktur keuangan di maskapai milik pemerintah tersebut.
(izz)
Lihat Juga :