Raih Prospek Negatif, Saham ANTM Melemah
Jum'at, 12 September 2014 - 12:00 WIB
Raih Prospek Negatif, Saham ANTM Melemah
A
A
A
JAKARTA - Harga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pagi tadi dibuka melemah tipis pasca tetap dipertahankannya peringkat dan prospek peringkatnya oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).
Harga saham perusahaan pada awal perdagangan dibuka turun 5 poin menjadi Rp1.140 per lembar dibanding penutupan hari sebelumnya di harga Rp1.145 per lembar. Sementara pada akhir sesi I, harga saham ANTM kembali susut 15 poin atau 1,32% menjadi Rp1.125 per lembar.
Kendati laju saham ANTM hingga siang ini melemah pasca pemeringkatan tersebut, namun perusahaan optimistis pada potensi perbaikan kinerja keuangan perusahaan.
Sekretaris Perusahaan Antam Tri Hatono mengatakan, optimisme tersebut didukung meningkatnya harga komoditas nikel sebagi dampak dari larangan ekspor bijih mineral mentah yang diberlakukan pemerintah pada 12 Januari 2014.
"Didukung dengan jumlah cadangan dan sumber daya bijih nikel kadar tinggi dan kadar rendah perseroan sebesar lebih dari 974 juta wet metrik ton, Antam dapat semakin menikmati penguatan harga nikel," kata dia dalam keterangannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (12/9/2014).
Hal itu seiring dengan penyelesaian proyek perluasan pabrik feronikel Pomala, yang akan meningkatkan kapasitas produksi pabrik menjadi 27.000-30.000 ton nikel dalam feronikel (TNi) per tahun dari kapasitas tahunan sebanyak 18.000-19.000 TNi.
Sementara progres konstruksi pabrik Pomala hingga akhir Agustus mencapai 66%. Proyek ini ditargetkan memasuki fase operasional pada tahun depan.
Selain pabrik tersebut, pengembangan chemical grade alumina (CGA) Tayan akan memasuki fase operasional komersil dan akan memberikan kontribusi positif kepada kinerja keuangan perusahaan tambang plat merah tersebut.
Pefindo kemarin mempertahankan peringkat idA ANTM sekaligus prospek peringkat negatif. Dipertahankan prospek peringkat tersebut untuk mengantisipasi penurunan lebih lanjut pada proteksi arus kas dan juga struktur permodalan perusahaan akibat harga komoditas yang lebih rendah dari yang diharapkan.
"Selain itu, juga kegagalan memenuhi target volume penjualan produk perusahaan," kata analis Pefindo Yogie Perdana.
Sementara peringkat yang diberikan mencerminkan sumber daya produk utama yang besar dan kualitas yang baik, kegiatan operasional yang terintegrasi secara vertikal dan produk perusahaan yang beragam.
Kendati demikian, peringkat dibatasi kinerja keuangan yang kurang baik akibat pelaksanaan larangan ekspor bijih mineral, risiko fluktuasi harga komoditas dan tingkat leverage keuangan yang agresif.
Harga saham perusahaan pada awal perdagangan dibuka turun 5 poin menjadi Rp1.140 per lembar dibanding penutupan hari sebelumnya di harga Rp1.145 per lembar. Sementara pada akhir sesi I, harga saham ANTM kembali susut 15 poin atau 1,32% menjadi Rp1.125 per lembar.
Kendati laju saham ANTM hingga siang ini melemah pasca pemeringkatan tersebut, namun perusahaan optimistis pada potensi perbaikan kinerja keuangan perusahaan.
Sekretaris Perusahaan Antam Tri Hatono mengatakan, optimisme tersebut didukung meningkatnya harga komoditas nikel sebagi dampak dari larangan ekspor bijih mineral mentah yang diberlakukan pemerintah pada 12 Januari 2014.
"Didukung dengan jumlah cadangan dan sumber daya bijih nikel kadar tinggi dan kadar rendah perseroan sebesar lebih dari 974 juta wet metrik ton, Antam dapat semakin menikmati penguatan harga nikel," kata dia dalam keterangannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (12/9/2014).
Hal itu seiring dengan penyelesaian proyek perluasan pabrik feronikel Pomala, yang akan meningkatkan kapasitas produksi pabrik menjadi 27.000-30.000 ton nikel dalam feronikel (TNi) per tahun dari kapasitas tahunan sebanyak 18.000-19.000 TNi.
Sementara progres konstruksi pabrik Pomala hingga akhir Agustus mencapai 66%. Proyek ini ditargetkan memasuki fase operasional pada tahun depan.
Selain pabrik tersebut, pengembangan chemical grade alumina (CGA) Tayan akan memasuki fase operasional komersil dan akan memberikan kontribusi positif kepada kinerja keuangan perusahaan tambang plat merah tersebut.
Pefindo kemarin mempertahankan peringkat idA ANTM sekaligus prospek peringkat negatif. Dipertahankan prospek peringkat tersebut untuk mengantisipasi penurunan lebih lanjut pada proteksi arus kas dan juga struktur permodalan perusahaan akibat harga komoditas yang lebih rendah dari yang diharapkan.
"Selain itu, juga kegagalan memenuhi target volume penjualan produk perusahaan," kata analis Pefindo Yogie Perdana.
Sementara peringkat yang diberikan mencerminkan sumber daya produk utama yang besar dan kualitas yang baik, kegiatan operasional yang terintegrasi secara vertikal dan produk perusahaan yang beragam.
Kendati demikian, peringkat dibatasi kinerja keuangan yang kurang baik akibat pelaksanaan larangan ekspor bijih mineral, risiko fluktuasi harga komoditas dan tingkat leverage keuangan yang agresif.
(rna)
Lihat Juga :