Kementerian ESDM Dinilai Tidak Transparan Kelola BBM

Rabu, 24 September 2014 - 18:08 WIB
Kementerian ESDM Dinilai...
Kementerian ESDM Dinilai Tidak Transparan Kelola BBM
A A A
JAKARTA - Kwik Kian Gie School Of Business menilai Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tidak transparan dalam mengelola Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

Rektor Kwik Kian Gie School of Business Anthony Budiawan memaparkan, sejak Februari 2009 Kementerian ESDM menutupi besaran biaya produksi bersubsidi.

Padahal, sebelumnya transparansi mengenai beban biaya produksi ini dibuka secara luas melalui situs Kementerian ESDM.

"Ironi yang terjadi saat ini pemerintah tidak ada transparansi dan melakukan pembodohan publik," katanya di Jakarta, Rabu (24/9/2014).

Menurutnya, sejak 2005 saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat, harga keekonomian dari produk BBM jenis premium dipatok sebesar Rp5.000 per liter.

Kemudian, subsidi pemerintah dari produk BBM jenis premium hanya Rp1.000 per liter dengan harga jual ke masyarakat Rp4.000 per liter.

"15 Januari 2009, harga BBM jenis premium keekonomiannya Rp5.000 per liter dan dijual ke masyarakat Rp4.500 per liter. Kemudian harga solar keekonomiannya turun dari Rp4.800 per liter menjadi Rp4.500 per liter," ucapnya.

Melalui masa pemerintahan SBY, Anthony menuturkan, pemerintah pernah menurunkan BBM bersubsidi. Padahal, saat itu harga keekonomian dari produk BBM memang tengah mengalami penurunan bila berkaca dari situasi global.

"Dapat katakan penurunan BBM itu merupakan suatu alat politik yang dipakai pemerintah," ujar dia.

Karena itu, pemerintah khsusnya Kementerian ESDM diminta membuka beban biaya produksi dari keekonomian BBM bersubsidi.

Hal ini bisa dimulai dengan melihat harga keekonomian BBM bersubsidi yang ditetapkan negara tetangga Malaysia.

"Kami menuntut berapa harga keekonomian dan publikasi secara luas, sehingga tidak ada lagi politisasi BBM. Transparansi harus dijalankan," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Subsidi Energi Terus...
Subsidi Energi Terus Membengkak, Tahun 2024 Disiapkan Rp186,9 Triliun
Menanti Skema Terkini...
Menanti Skema Terkini Penyaluran Bahan Bakar Minyak Subsidi
Pembatasan BBM Bersubsidi,...
Pembatasan BBM Bersubsidi, Pembelian Pertalite Bakal Gunakan Qr Code
Harga Bensin di Indonesia...
Harga Bensin di Indonesia Lebih Murah Dibanding Negara Tetangga, Ini Perbandingannya
Beli BBM Pertalite Dibatasi,...
Beli BBM Pertalite Dibatasi, Kementerian ESDM Kasih Bocoran ke DPR Siapa yang Berhak
Subsidi Solar Bisa Terpengaruh?...
Subsidi Solar Bisa Terpengaruh? Menteri ESDM Ubah Formula Harga Dasar Jenis BBM Tertentu
Berita Terkini
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
52 menit yang lalu
Anomali Tiket Pesawat:...
Anomali Tiket Pesawat: Penerbangan Domestik Dipungut PPN, ke Luar Negeri Bebas Pajak
2 jam yang lalu
Menakar Efek Domino...
Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
2 jam yang lalu
Asprindo Dorong Skema...
Asprindo Dorong Skema Hybrid Pengelolaan Blok Andaman
13 jam yang lalu
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
13 jam yang lalu
Industri Diajak Bergerak...
Industri Diajak Bergerak Cepat Adopsi Energi Surya
15 jam yang lalu
Infografis
10 Negara yang Paling...
10 Negara yang Paling Tidak Dikenal, dari Nauru hingga Tuvalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved