IHSG Anjlok karena USD Tak Bersahabat Selama Sepekan
Minggu, 05 Oktober 2014 - 08:10 WIB
IHSG Anjlok karena USD Tak Bersahabat Selama Sepekan
A
A
A
JAKARTA - Pengamat ekonomi dari Indosurya Securities, William Surya Wijaya mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan di bawah 5.000 karena efek penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (USD) yang tidak bersahabat selama sepekan.
Menurutnya, saat ini rupiah per USD menembus angka lebih dari Rp12.000 dan sudah terjadi selama seminggu, sehingga berdampak signifikan terhadap IHSG.
"Jadi imbasnya ke investor-investor dalam negeri. Ya, mereka semua sekarang rata-rata mengalihkan sebagian aliran investasinya ke Foreign Exchange karena anjloknya IHSG tadi," ujar William saat berbincang dengan Sindonews di Jakarta (3/10/2014).
Namun, William tetap optimis di akhir tahun IHSG kembali akan menguat. Asalkan presiden terpilih Joko Widodo bisa membuat gebrakan di awal pemerintahannya.
"Namun, jika Pak Jokowi geraknya slow motion, ya arahnya saya rasa maksimal 5.400 (IHSG), sedangkan kalau dia gencar maksimal bisa di angka 5.625. Itu mungkin saja bisa terjadi," ujarnya.
Dia menegaskan, ini semua sangat tergantung pada pemeritahan baru yang akan dilantik 20 Oktober 2014. Diharapkan, Joko Widodo dapat membuat infus positif terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
"Ya, salah satunya pertumbuhan dalam pembangunan di bidang perekonomian. Itu saja dulu dibenahi. Biar para pelaku usaha, investor enggak pusing," tandasnya.
Menurutnya, saat ini rupiah per USD menembus angka lebih dari Rp12.000 dan sudah terjadi selama seminggu, sehingga berdampak signifikan terhadap IHSG.
"Jadi imbasnya ke investor-investor dalam negeri. Ya, mereka semua sekarang rata-rata mengalihkan sebagian aliran investasinya ke Foreign Exchange karena anjloknya IHSG tadi," ujar William saat berbincang dengan Sindonews di Jakarta (3/10/2014).
Namun, William tetap optimis di akhir tahun IHSG kembali akan menguat. Asalkan presiden terpilih Joko Widodo bisa membuat gebrakan di awal pemerintahannya.
"Namun, jika Pak Jokowi geraknya slow motion, ya arahnya saya rasa maksimal 5.400 (IHSG), sedangkan kalau dia gencar maksimal bisa di angka 5.625. Itu mungkin saja bisa terjadi," ujarnya.
Dia menegaskan, ini semua sangat tergantung pada pemeritahan baru yang akan dilantik 20 Oktober 2014. Diharapkan, Joko Widodo dapat membuat infus positif terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
"Ya, salah satunya pertumbuhan dalam pembangunan di bidang perekonomian. Itu saja dulu dibenahi. Biar para pelaku usaha, investor enggak pusing," tandasnya.
(dmd)
Lihat Juga :