Perkebunan Sawit Rakyat Perlu Bentuk Koperasi

Selasa, 21 Oktober 2014 - 19:45 WIB
Perkebunan Sawit Rakyat...
Perkebunan Sawit Rakyat Perlu Bentuk Koperasi
A A A
JAKARTA - Perkebunan sawit rakyat dinilai perlu membentuk koperasi agribisnis. Pembentukan koperasi diperlukan agar skala usaha yang sebagian besar dimiliki petani tersebut menjadi lebih besar.

Ketua Pembina Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi) Bungaran Saragih mengatakan, selama ini perkebunan kelapa sawit rakyat memiliki skala usaha kecil-kecil dengan kepemilikan lahan 2-10 hektare (ha).

“Kondisi tersebut menjadikan usaha perkebunan sawit rakyat tidak efisien dan biaya produksinya besar,” katanya dalam Seminar Penguatan Ekonomi Petani Sawit Melalui Pengembangan Koperasi Agribisnis Perkebunan Kelapa Sawit di Jakarta, Selasa (21/10/2014).

Oleh karena itu, lanjutnya, untuk menekan biaya produksi serta menjadikan usaha perkebunan rakyat lebih efisien mereka harus bergabung dan membentuk koperasi.

“Melalui koperasi rakyat tersebut, nantinya dapat mengelola perkebunan petani yang terpisah-pisah dan kecil-kecil menjadi sebuah hamparan yang luas,” kata Menteri Pertanian periode 2000-2004 itu.

Perkebunan sawit yang dikelola perusahaan biasanya skala luas antara 7.000-9.000 ha per unit untuk mencapai tingkat efisiensi. Melalui koperasi primer, menurut dia, maka perkebunan sawit rakyat dapat mengelola hingga 1.000 ha per unit kawasan.

“Jika saat ini terdapat 4 juta ha perkebunan sawit, maka akan terbentuk 4.000 koperasi primer. Artinya akan ada 200 koperasi primer di setiap provinsi jika 4 juta ha lahan sawit saat ini tersebar di 20 provinsi,” katanya.

Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia (Apakasi) Isran Noor mengatakan, pengembangan koperasi sebagai organisasi ekonomi kolektif para petani sawit pengembangannya perlu dipercepat.

Menurut dia, pengembangan koperasi sebagai organisasi ekonomi petani sawit jangan berhenti hanya pada pabrik kelapa sawit (PKS), namun juga ke kegiatan bisnis yang lebih hulu seperti pupuk dan lebih ke hilir seperti industri pengolahan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

“Untuk memasuki bisnis tersebut memerlukan skala ekonomi yang lebih besar. Oleh karena itu koperasi-koperasi primer harus bergabung menjadi Pusat Koperasi Agribisnis Sawit agar skala ekonomi yang lebih besar dapat dipenuhi,” katanya.

Dalam pengembangan bisnis koperasi baik ke hulu dan hilir, lanjut Isran yang juga Bupati Kutai Timur itu, koperasi petani sawit tidak harus sendiri-sendiri, namun dapat bekerjasama dengan perusahaan swasta maupun BUMN atau BUMD.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Komitmen YIDH Dukung...
Komitmen YIDH Dukung Pelaksanaan Peta Jalan Menuju Sawit Berkelanjutan di Aceh
Sejumlah Masalah yang...
Sejumlah Masalah yang Bikin Pengusaha Sawit dan Masyarakat Tidak Akur
Aspekpir Kolaborasi...
Aspekpir Kolaborasi Buat Film Dokumenter Desa Transmigrasi Sawit
Pengolahan yang Baik...
Pengolahan yang Baik Jadikan Limbah Cair Pabrik Sawit Bernilai Ekonomi Tinggi
Perkebunan Sawit Berkelanjutan...
Perkebunan Sawit Berkelanjutan Tumbuhkan Ekonomi Desa Terpencil
Wujudkan Perkebunan...
Wujudkan Perkebunan Berkelanjutan, SPKS Dorong Kemitraan Usaha dengan Petani
Berita Terkini
Bangun Infrastruktur...
Bangun Infrastruktur Unggul, Brantas Abipraya Perkuat Kolaborasi Internal
18 menit yang lalu
Purbaya Tepis Isu Mundur...
Purbaya Tepis Isu Mundur dari Kursi Menkeu di Tengah Kejatuhan Rupiah Rp18.039
56 menit yang lalu
IHSG Berakhir Longsor...
IHSG Berakhir Longsor 1,70% ke Posisi 5.839, Ada 651 Saham Berjatuhan
1 jam yang lalu
Harga Avtur Makin Mahal,...
Harga Avtur Makin Mahal, Maskapai Raksasa AS Mendadak Batalkan 6 Rute Penerbangan!
1 jam yang lalu
BI Respons Rupiah Tembus...
BI Respons Rupiah Tembus Rp18.000, Samakan Nasib dengan Tetangga RI
4 jam yang lalu
Pemerintah Pastikan...
Pemerintah Pastikan Harga MinyaKita Naik, Ini Sebabnya
4 jam yang lalu
Infografis
Virus Hanta Merebak!...
Virus Hanta Merebak! Ini 5 Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved