Dana Kelolaan Dapen Rp180 T Tahun Ini
Kamis, 04 Desember 2014 - 16:40 WIB
Dana Kelolaan Dapen Rp180 T Tahun Ini
A
A
A
JAKARTA - Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) optimis nilai dana kelolaan anggotanya dapat mencapai Rp180 triliun di akhir 2014.
Pihaknya memperkirakan dana yang terkumpul tahun depan dapat tumbuh sebesar 8%.
Ketua Umum ADPI Gatut Subadio mengatakan, hingga saat ini dana kelolaan industri sudah mencapai Rp175 triliun.
Hal ini membuat pihaknya yakin nilai tersebut masih dapat bertambah hingga akhir tahun. "Dana kelolaan dapen (dana pensiun) saat ini sudah mencapai Rp175 triliun. Dan masih akan bertambah sepanjang kondisi ekonomi masih kondusif hingga akhir tahun," ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Kamis (4/12/2014).
Dia mengatakan, industri dapen tetap bisa tumbuh paling tidak 8%. Bahkan, anggotanya dapat mengantisipasi dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate yang naik menjadi 7,75%.
Kenaikan tersebut disebutnya tidak berdampak sebesar yang sebelumnya saat BI Rate mencapai 7,5%.
"Untuk jangka pendek kami siap menerima dampaknya. Namun kami yakin dalam jangka panjang akan positif bagi perekonomian nasional dan industri dapen. Kami fokus mencari instrumen dengan return jangka panjang di atas inflasi," terangnya.
Namun, pihaknya mengingatkan adanya kekhawatiran rencana BPJS Ketenagakerjaan yang akan menggarap dana pensiun bagi pekerja di Indonesia tahun depan.
Dampaknya bisa memengaruhi pendapatan industri dapen. "Pertumbuhan dapen sepanjang masih bisa melanjutksn kegiatannya walaupun BPJS ketenagakerjaan nanti efektif. Karena iuran masih diterima dapen," ujar dia.
Dia berharap dapen perlu diberi kesempatan melakukan assesment secara wajar baik oleh OJK maupun pemberi kerja. Mengingat tantangan kekuatan dapen untuk memenuhi kewajiban finansial sebagai dana pensiun pemberi kerja atau dana pensiun lembaga keuangan (dppk/dplk).
"Kalau sekiranya berat dapen dapat begabung dengan BPJS Ketenagakerjaan nantinya," kata Gatut.
Menurutnya, sebagai investor dana pensiun tetap berpegang pada prinsip risk and return.
Untuk itu menyambut baik inovasi fungsi PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) sebagai penerbit efek beragun aset atau EBA sehingga memberikan kepastian terhadap issuer walaupun underlying-nya tetap berupa tagihan.
"Dengan EBA, dana pensiun mempunyai ruang lebih luas dalam menginvestasikan dananya yang berorientasi jangka panjang. Kami akan masuk setidaknya 5% dari dana kelolaan saat ini sudah lumayan sekali," jelasnya.
Salah satu tantangan yang perlu dijawab pasar adalah bagaimana mendorong instrumen EBA menjadi likuid, sehingga memberi keyakinan dan memudahkan investor bahwa secondary market tersedia.
Pihaknya memperkirakan dana yang terkumpul tahun depan dapat tumbuh sebesar 8%.
Ketua Umum ADPI Gatut Subadio mengatakan, hingga saat ini dana kelolaan industri sudah mencapai Rp175 triliun.
Hal ini membuat pihaknya yakin nilai tersebut masih dapat bertambah hingga akhir tahun. "Dana kelolaan dapen (dana pensiun) saat ini sudah mencapai Rp175 triliun. Dan masih akan bertambah sepanjang kondisi ekonomi masih kondusif hingga akhir tahun," ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Kamis (4/12/2014).
Dia mengatakan, industri dapen tetap bisa tumbuh paling tidak 8%. Bahkan, anggotanya dapat mengantisipasi dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate yang naik menjadi 7,75%.
Kenaikan tersebut disebutnya tidak berdampak sebesar yang sebelumnya saat BI Rate mencapai 7,5%.
"Untuk jangka pendek kami siap menerima dampaknya. Namun kami yakin dalam jangka panjang akan positif bagi perekonomian nasional dan industri dapen. Kami fokus mencari instrumen dengan return jangka panjang di atas inflasi," terangnya.
Namun, pihaknya mengingatkan adanya kekhawatiran rencana BPJS Ketenagakerjaan yang akan menggarap dana pensiun bagi pekerja di Indonesia tahun depan.
Dampaknya bisa memengaruhi pendapatan industri dapen. "Pertumbuhan dapen sepanjang masih bisa melanjutksn kegiatannya walaupun BPJS ketenagakerjaan nanti efektif. Karena iuran masih diterima dapen," ujar dia.
Dia berharap dapen perlu diberi kesempatan melakukan assesment secara wajar baik oleh OJK maupun pemberi kerja. Mengingat tantangan kekuatan dapen untuk memenuhi kewajiban finansial sebagai dana pensiun pemberi kerja atau dana pensiun lembaga keuangan (dppk/dplk).
"Kalau sekiranya berat dapen dapat begabung dengan BPJS Ketenagakerjaan nantinya," kata Gatut.
Menurutnya, sebagai investor dana pensiun tetap berpegang pada prinsip risk and return.
Untuk itu menyambut baik inovasi fungsi PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) sebagai penerbit efek beragun aset atau EBA sehingga memberikan kepastian terhadap issuer walaupun underlying-nya tetap berupa tagihan.
"Dengan EBA, dana pensiun mempunyai ruang lebih luas dalam menginvestasikan dananya yang berorientasi jangka panjang. Kami akan masuk setidaknya 5% dari dana kelolaan saat ini sudah lumayan sekali," jelasnya.
Salah satu tantangan yang perlu dijawab pasar adalah bagaimana mendorong instrumen EBA menjadi likuid, sehingga memberi keyakinan dan memudahkan investor bahwa secondary market tersedia.
(izz)
Lihat Juga :