Rupiah Diproyeksi Sulit Menguat Tanpa Intervensi BI
Minggu, 14 Desember 2014 - 11:01 WIB
Rupiah Diproyeksi Sulit Menguat Tanpa Intervensi BI
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga penghujung tahun ini diproyeksi masih akan terpuruk. Bahkan jika Bank Indonesia (BI) tidak ikut melakukan intervensi, rupiah diperkirakan sulit menguat dalam jangka pendek.
Pengamat Ekonomi Institute for Development Economy and Finance (Indef) Ahmad Erani Yustika mengatakan, target apresiasi rupiah pada tahun depan akan tercapai jika bank sentral mau melakukan intervensi di pasar.
“Kita hanya menunggu bagaimana BI mau melakukan intervensi di pasar. Kalau Bank Indonesia hanya menunggu, tidak melakukan intervensi dan operasi pasar, penguatan jangka pendek itu susah," kata dia kepada Sindonews, Minggu (14/12/2014).
Dia memprediksi bahwa terpuruknya nilai tukar rupiah yang hampir mendekati level Rp12.500 per USD akan terjadi hingga akhir 2014.
“Tahun ini, saya tidak yakin, tetapi tahun depan saya kira kita akan mengalami penguatan seiring redanya inflasi. Cuma untuk tahun ini, saya tidak bisa prediksi sampai sejauh mana karena waktunya tinggal sedikit,” ujar dia.
Menurut Ahmad Erani, tindakan pemerintah dalam menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi merupakan tindakan yang benar untuk menekan sumber masalah fiskal, sehingga rupiah akan menguat ke depannya.
Namun dalam jangka pendek, dia menuturkan, kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut menyebabkan inflasi semakin tinggi, sehingga membuat rupiah tertekan. Di samping itu, menguatnya USD karena membaiknya kondisi ekonomi negara Paman Sam tersebut juga makin menekan mata uang domestik.
Sekadar informasi, rupiah pada perdagangan Jumat (12/12/2014) berdasarkan data Bloomberg berakhir pada level Rp12.467 per USD. Posisi tersebut terdepresiasi tajam 117 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp12.350 per USD.
Sementara posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp12.432 per USD. Posisi ini merosot 96 poin dibanding posisi penutupan hari sebelumnya Rp12.336 per USD.
Pengamat Ekonomi Institute for Development Economy and Finance (Indef) Ahmad Erani Yustika mengatakan, target apresiasi rupiah pada tahun depan akan tercapai jika bank sentral mau melakukan intervensi di pasar.
“Kita hanya menunggu bagaimana BI mau melakukan intervensi di pasar. Kalau Bank Indonesia hanya menunggu, tidak melakukan intervensi dan operasi pasar, penguatan jangka pendek itu susah," kata dia kepada Sindonews, Minggu (14/12/2014).
Dia memprediksi bahwa terpuruknya nilai tukar rupiah yang hampir mendekati level Rp12.500 per USD akan terjadi hingga akhir 2014.
“Tahun ini, saya tidak yakin, tetapi tahun depan saya kira kita akan mengalami penguatan seiring redanya inflasi. Cuma untuk tahun ini, saya tidak bisa prediksi sampai sejauh mana karena waktunya tinggal sedikit,” ujar dia.
Menurut Ahmad Erani, tindakan pemerintah dalam menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi merupakan tindakan yang benar untuk menekan sumber masalah fiskal, sehingga rupiah akan menguat ke depannya.
Namun dalam jangka pendek, dia menuturkan, kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut menyebabkan inflasi semakin tinggi, sehingga membuat rupiah tertekan. Di samping itu, menguatnya USD karena membaiknya kondisi ekonomi negara Paman Sam tersebut juga makin menekan mata uang domestik.
Sekadar informasi, rupiah pada perdagangan Jumat (12/12/2014) berdasarkan data Bloomberg berakhir pada level Rp12.467 per USD. Posisi tersebut terdepresiasi tajam 117 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp12.350 per USD.
Sementara posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp12.432 per USD. Posisi ini merosot 96 poin dibanding posisi penutupan hari sebelumnya Rp12.336 per USD.
(rna)
Lihat Juga :