IMF Pangkas Pertumbuhan, Wall Street Berakhir Mendatar
Rabu, 21 Januari 2015 - 09:00 WIB
IMF Pangkas Pertumbuhan, Wall Street Berakhir Mendatar
A
A
A
NEW YORK - Saham di Wall Street pada perdagangan Selasa waktu setempat berakhir mendatar setelah Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi 2015 dan 2016.
Hal itu meningkatkan spekulasi bahwa bank sentral akan mengambil kebijakan yang lebih agresif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
IMF memangkas proyeksi sebesar 0,3 poin persentase dan menyarankan negara maju untuk mempertahankan kebijakan moneter akomodatif untuk menghindari naiknya suku bunga riil menyusul anjloknya harga minyak, yang dapt meningkatkan risiko deflasi.
Adapun proyeksi tersebut karena sedikitnya permintaan bahan bakar hingga 2016, memberikan kontribusi terhadap penurunan harga minyak mentah, meski beberapa perusahaan sektor energi mencatat kenaikan. Sektor energi di indeks S&P (SPNY) menguat 0,09%.
Bank Sentral Eropa (EBC) diperkirakan akan mengumumkan program pembelian obligasi pada Kamis untuk meningkatkan perekonomian di kawasan itu.
"Apa yang masuk akal dilakukan ECB mengecewakan, Anda akan melihat pasar akan bergerak agak kasar. Anda bisa berspekulasi dan investor berharap pasar menguat sesuai yang mereka inginkan, tetapi sampai ada kebijakan dari ECB, Anda tidak benar-benar akan tahu," kata Direktur di O'Neil Securities Ken Polcari seperti dilansir dari Reuters, Rabu (21/1/2015).
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 3,66 poin atau 0,02% ke 17.515,23; indeks S&P 500 naik 3,12 poin atau 0,15% ke 2.022,54; dan Nasdaq Composite bertambah 20,46 poin atau 0,44% ke 4.654,85.
Volume transaksi tercatat sekitar 7,2 miliar di bursa AS. Jumlah tersebut sejalan dengan rata-rata sepanjang bulan ini sebanyak 7,29 miliar lembar saham.
Hal itu meningkatkan spekulasi bahwa bank sentral akan mengambil kebijakan yang lebih agresif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
IMF memangkas proyeksi sebesar 0,3 poin persentase dan menyarankan negara maju untuk mempertahankan kebijakan moneter akomodatif untuk menghindari naiknya suku bunga riil menyusul anjloknya harga minyak, yang dapt meningkatkan risiko deflasi.
Adapun proyeksi tersebut karena sedikitnya permintaan bahan bakar hingga 2016, memberikan kontribusi terhadap penurunan harga minyak mentah, meski beberapa perusahaan sektor energi mencatat kenaikan. Sektor energi di indeks S&P (SPNY) menguat 0,09%.
Bank Sentral Eropa (EBC) diperkirakan akan mengumumkan program pembelian obligasi pada Kamis untuk meningkatkan perekonomian di kawasan itu.
"Apa yang masuk akal dilakukan ECB mengecewakan, Anda akan melihat pasar akan bergerak agak kasar. Anda bisa berspekulasi dan investor berharap pasar menguat sesuai yang mereka inginkan, tetapi sampai ada kebijakan dari ECB, Anda tidak benar-benar akan tahu," kata Direktur di O'Neil Securities Ken Polcari seperti dilansir dari Reuters, Rabu (21/1/2015).
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 3,66 poin atau 0,02% ke 17.515,23; indeks S&P 500 naik 3,12 poin atau 0,15% ke 2.022,54; dan Nasdaq Composite bertambah 20,46 poin atau 0,44% ke 4.654,85.
Volume transaksi tercatat sekitar 7,2 miliar di bursa AS. Jumlah tersebut sejalan dengan rata-rata sepanjang bulan ini sebanyak 7,29 miliar lembar saham.
(rna)
Lihat Juga :