Indeks S&P Melemah Dipicu Jatuhnya Harga Minyak

Kamis, 05 Februari 2015 - 08:56 WIB
Indeks S&P Melemah Dipicu...
Indeks S&P Melemah Dipicu Jatuhnya Harga Minyak
A A A
NEW YORK - Indeks saham di Wall Street pada perdagangan Rabu waktu setempat berakhir variatif, dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq berakhir melemah.

Koreksi itu mengakhiri reli dua hari karena merosotnya saham sektor energi merosot karena jatuhnya harga minyak dan investor yang kembali khawatir tentang kondisi zona Eropa menjelang sesi akhir perdagangan.

Dua indeks itu melemah di akhir sesi setelah Bank Sentral Eropa (ECB) tiba-tiba membatalkan penerimaan obligasi Yunani dengan imbalan dana. Langkah ini berarti bank sentral Yunani harus menyediakan dana puluhan miliar euro untuk likuiditas darurat tambahan dalam beberapa pekan mendatang.

"Ini seperti menegaskan kembali apa yang telah kami pikirkan, yang akan menjadi krisis likuiditas jika mereka tidak mengatasi situasi Yunani. Mereka membuat sedikit kemajuan dan kemudian mereka jatuh kembali," kata pedagang ekuitas senior di Cabrera Capital Markets Inc Larry Peruzzi seperti dilansir Reuters, Kamis (5/2/2015).

Sementara indeks Dow Jones berakhir di wilayah positif, terangkat oleh saham Walt Disney (DIS.N), yang naik 8% menjadi USD101,64 setelah laba kuartalan melampaui ekspektasi analis.

Saham sektor energi di indeks S&P 500 (SPNY) melemah 1,6% karena turunnya harga minyak setelah melonjakan hampir 20% selama empat hari. Minyak mentah AS merosot 8,7% menjadi USD48,45 per barel.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 6,62 poin atau 0,04% ke 17.673,02; indeks S&P 500 melemah 8,52 poin atau 0,42% ke 2.041,51; dan Nasdaq Composite turun 11,04 poin atau 0,23% ke 4.716,70.

Sekitar 7,8 miliar saham ditransaksikan di bursa AS. Volume transaksi itu di bawah rata-rata selama lima sesi perdgaangan terakhir sebanyak 8,1 miliar lembar saham.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Bangkit...
Wall Street Bangkit Ditopang Dua Raksasa Teknologi
Ditopang Saham-saham...
Ditopang Saham-saham Bank, Wall Street Dibuka Naik
Wall Street Turun Tajam...
Wall Street Turun Tajam Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi
Wall Street Mixed Saat...
Wall Street Mixed Saat Dow dan S&P 500 Jatuh Dibayangi Kasus Baru Covid-19
Berita Terkini
Percepat Terbentuknya...
Percepat Terbentuknya Ekosistem Pasar Karbon Nasional yang Kredibel, Transparan, dan Berdaya Saing
7 jam yang lalu
Bio Farma Luncurkan...
Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Perkuat Kedaulatan Vaksin Lewat Kolaborasi Akademisi dan Industri
7 jam yang lalu
Kucuran Investasi Rp1.010,6...
Kucuran Investasi Rp1.010,6 Triliun di Paruh Pertama 2026 Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja
8 jam yang lalu
Gerak Cepat, BRI Insurance...
Gerak Cepat, BRI Insurance Serahkan Klaim Asuransi Alat Berat Rp322 Juta ke Nasabah Pangkal Pinang
8 jam yang lalu
Pegadaian Perluas Program...
Pegadaian Perluas Program Pande Emas Perkuat Ekosistem Bullion Services
9 jam yang lalu
Bahlil Sebut Kehadiran...
Bahlil Sebut Kehadiran Blok Masela Mampu Dongkrak PDB Nasional hingga Rp2.477 Triliun
9 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved