BI: Pertumbuhan Kredit Makin Tinggi di Kuartal III
Jum'at, 06 Februari 2015 - 16:53 WIB
BI: Pertumbuhan Kredit Makin Tinggi di Kuartal III
A
A
A
JAKARTA - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis pertumbuhan kredit akan semakin tinggi di 2015. Menurutnya, pertumbuhan kredit akan terlihat di kuartal II dan tertinggi pada kuartal III.
"Memang pertumbuhan kredit akan kelihatan kuartal II dan III sesuai dengan. kuartal I masih tahap finalisasi RAPBN-P, sementara ekspansi fiskal akan naik di kuartal II, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi dan kredit. Sebab itu, pertumbuhan kredit akan naik pada kuartal II dan lebih tinggi di kuartal III," kata Perry di Jakarta, Jumat (6/2/2015).
Menurutnya, ada tiga faktor yang mempengaruhi pertumbuhan kredit pada tahun ini, yaitu likuiditas, suku bunga, dan prospek bisnis. Untuk suku bunga, Perry memperkirakan, pertumbuhan kredit akan akan lebih tinggi karena masih fokus pada stabilitas.
"Likuiditas sudah kita kendorkan, sehingga funding perbankan tidak masalah untuk menyalurkan kredit, dan prospek bisnis akan lebih baik. Pertumbuhan ekonomi 5,02% akan memicu pertumbuhan kredit," tambahnya.
Sementara melalui kebijakan makro prudensial, BI sudah lebih akomodatif mendorong kredit dan pertumbuhan ekonomi. Caranya, dengan mengendurkan likuiditas di pasar maupun perbankan.
"Prospek bisnis akan lebih positif. Dengan pertimbangan ini, maka pertumbuhan kredit akan naik dari 12% tahun lalu menjadi 15%-17% tahun 2015," pungkas Perry.
"Memang pertumbuhan kredit akan kelihatan kuartal II dan III sesuai dengan. kuartal I masih tahap finalisasi RAPBN-P, sementara ekspansi fiskal akan naik di kuartal II, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi dan kredit. Sebab itu, pertumbuhan kredit akan naik pada kuartal II dan lebih tinggi di kuartal III," kata Perry di Jakarta, Jumat (6/2/2015).
Menurutnya, ada tiga faktor yang mempengaruhi pertumbuhan kredit pada tahun ini, yaitu likuiditas, suku bunga, dan prospek bisnis. Untuk suku bunga, Perry memperkirakan, pertumbuhan kredit akan akan lebih tinggi karena masih fokus pada stabilitas.
"Likuiditas sudah kita kendorkan, sehingga funding perbankan tidak masalah untuk menyalurkan kredit, dan prospek bisnis akan lebih baik. Pertumbuhan ekonomi 5,02% akan memicu pertumbuhan kredit," tambahnya.
Sementara melalui kebijakan makro prudensial, BI sudah lebih akomodatif mendorong kredit dan pertumbuhan ekonomi. Caranya, dengan mengendurkan likuiditas di pasar maupun perbankan.
"Prospek bisnis akan lebih positif. Dengan pertimbangan ini, maka pertumbuhan kredit akan naik dari 12% tahun lalu menjadi 15%-17% tahun 2015," pungkas Perry.
(rna)
Lihat Juga :