Rupiah Loyo, Harga Besi Impor Berpotensi Naik 40%
Jum'at, 13 Maret 2015 - 12:29 WIB
Rupiah Loyo, Harga Besi Impor Berpotensi Naik 40%
A
A
A
JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) berpotensi mengakibatkan harga produk konstruksi seperti besi impor meroket. Bahkan, kenaikan harga besi impor diperkirakan bisa naik hingga 40%.
"Ya besi-besinya yang diimpoir susah. Harga makin mahal. Misalnya teman-teman mau beli komputer, naik harganya 30% sampai 40%," kata ekonom senior Didik J Rachbini di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (13/3/2015).
Menurutnya, saat rupiah loyo seperti sekarang, yang banyak diuntungkan adalah sektor-sektor yang mengambil bahan baku dalam negeri. Pasalnya, bahan baku yang dibeli menggunakan rupiah, sementara menjualnya menggunakan USD untuk diekspor.
"Tapi sektor lain, pada umumnya mengalami ketidakstabilan di dalam menjalankan bisnisnya. Intinya jangan main-main deh," imbuhnya.
Dia menegaskan, pemerintah harus segera membereskan gejolak yang terjadi terhadap nilai tukar. Menurutnya, pemerintah jangan hanya sibuk dengan urusan politik, sementara perekonomian yang menyangkut hajat hidup masyarakat diabaikan.
"Prediksi saya di enam bulan lalu itu rupiah sekitar Rp12.000-Rp12.500/USD, itu normalnya. Tapi karena ini diremehkan dan tidak ada action yang real dalam mengatasi permasalahan struktural itu maka rupiah meleset ke Rp13.000/USD," pungkasnya.
"Ya besi-besinya yang diimpoir susah. Harga makin mahal. Misalnya teman-teman mau beli komputer, naik harganya 30% sampai 40%," kata ekonom senior Didik J Rachbini di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (13/3/2015).
Menurutnya, saat rupiah loyo seperti sekarang, yang banyak diuntungkan adalah sektor-sektor yang mengambil bahan baku dalam negeri. Pasalnya, bahan baku yang dibeli menggunakan rupiah, sementara menjualnya menggunakan USD untuk diekspor.
"Tapi sektor lain, pada umumnya mengalami ketidakstabilan di dalam menjalankan bisnisnya. Intinya jangan main-main deh," imbuhnya.
Dia menegaskan, pemerintah harus segera membereskan gejolak yang terjadi terhadap nilai tukar. Menurutnya, pemerintah jangan hanya sibuk dengan urusan politik, sementara perekonomian yang menyangkut hajat hidup masyarakat diabaikan.
"Prediksi saya di enam bulan lalu itu rupiah sekitar Rp12.000-Rp12.500/USD, itu normalnya. Tapi karena ini diremehkan dan tidak ada action yang real dalam mengatasi permasalahan struktural itu maka rupiah meleset ke Rp13.000/USD," pungkasnya.
(rna)