Jokowi Tak Pantas Bandingkan Rupiah 1998 dengan Sekarang
Sabtu, 14 Maret 2015 - 23:24 WIB
Jokowi Tak Pantas Bandingkan Rupiah 1998 dengan Sekarang
A
A
A
JAKARTA - Analis Ekonomi Politik dari Populi Center Nico Harjanto mengungkapkan, pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada saat krisis 1998 lebih parah dibandingkan dengan pelemahannya saat ini tidak pantas diucapkan.
Dia mengatakan, Jokowi seakan membandingkan peristiwa yang terjadi pada saat krisis 1998 silam, dengan apa yang terjadi saat ini. Padahal, dua peristiwa tersebut jelas sekali berbeda.
"Presiden bilang pelemahan ini lebih parah saat orde baru, statemen seperti itu tidak tepat. Membandingkan situasi yang lama, padahal pelemahan sekarang sepertinya akan continue," ucapnya di Jakarta, Sabtu (14/3/2015).
Seperti diberitakan sebelumnya, Jokowi menyebut bahwa pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) saat ini tidak separah seperti yang terjadi pada 1998.
Menurut dia, pada saat krisis moneter pada 17 tahun silam tersebut menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD terjadi sangat drastis.
"Jangan dibandingkan dengan 1998, pelemahan nilai tukar USD (saat itu) dari Rp2.000/USD ke Rp15.000/USD," ujarnya baru-baru ini.
Menurut mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, yang paling penting saat ini bahwa Bank Indonesia (BI) sudah menjaga volatilitas nilai tukar rupiah dengan baik.
"Akan keluar kebijakan yang akan memberi stimulasi agar perekonomian bisa bergerak kembali dengan baik. Yang jelas, akan diberikan insentif dan tax allowance. Konkretnya menteri yang akan menyampaikan," jelas Jokowi.
Dia mengatakan, Jokowi seakan membandingkan peristiwa yang terjadi pada saat krisis 1998 silam, dengan apa yang terjadi saat ini. Padahal, dua peristiwa tersebut jelas sekali berbeda.
"Presiden bilang pelemahan ini lebih parah saat orde baru, statemen seperti itu tidak tepat. Membandingkan situasi yang lama, padahal pelemahan sekarang sepertinya akan continue," ucapnya di Jakarta, Sabtu (14/3/2015).
Seperti diberitakan sebelumnya, Jokowi menyebut bahwa pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) saat ini tidak separah seperti yang terjadi pada 1998.
Menurut dia, pada saat krisis moneter pada 17 tahun silam tersebut menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD terjadi sangat drastis.
"Jangan dibandingkan dengan 1998, pelemahan nilai tukar USD (saat itu) dari Rp2.000/USD ke Rp15.000/USD," ujarnya baru-baru ini.
Menurut mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, yang paling penting saat ini bahwa Bank Indonesia (BI) sudah menjaga volatilitas nilai tukar rupiah dengan baik.
"Akan keluar kebijakan yang akan memberi stimulasi agar perekonomian bisa bergerak kembali dengan baik. Yang jelas, akan diberikan insentif dan tax allowance. Konkretnya menteri yang akan menyampaikan," jelas Jokowi.
(dol)