AS Tujuan Utama Ekspor Perikanan Indonesia

Jum'at, 20 Maret 2015 - 11:55 WIB
AS Tujuan Utama Ekspor...
AS Tujuan Utama Ekspor Perikanan Indonesia
A A A
JAKARTA - Dijen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Saut P Hutagalung menilai, Amerika Serikat (AS) merupakan pasar produk perikanan yang menarik karena 90% produk yang dikonsumsi berasal dari impor.

Pada 2014, impor produk seafood AS mencapai USD21,9 miliar, dengan komoditas utama udang, salmon, tuna, kakap, kepiting dan rajungan, lobster dan tilapia. Berdasarkan data Comtrade, urutan pemasok produk seafood ke AS 2014, yaitu China (USD3,1 miliar), Canada (USD2,8 miliar) dan Indonesia (USD1,9 miliar).

"Pada 2014, pangsa pasar udang Indonesia ke Amerika menempati posisi kedua setelah India, karena pasokan dari China, Thailand, Vietnam mengalami gangguan. Porsi udang Indonesia sebesar 19% ke pasar AS dalam volume yaitu 107 ribu ton dari total impor udang AS sekitar 570 ribu ton," ujar dia dalam rilisnya di Jakarta, Jumat (20/3/2015).

Adapun ekspor kepiting dan rajungan, dari Indonesia juga menempati posisi sebagai salah satu supplier utama dengan share sebesar hampir 20% dalam nilai yaitu USD277 juta dari total impor rajungan AS sebesar USD1,4 miliar.

"Kalau berdasarkan data BPS, nilai ekspor hasil perikanan 2014 mencapai USD4,6 miliar, meningkat sekitar 9% dari USD4,2 miliar di 2013. Ekspor ke AS 2014 sebesar USD1,84 miliar dari USD1,33 miliar, atau meningkat 27%," imbuhnya.

Untuk komoditas utama ekspor ke AS pada 2014 adalah udang dengan volume 107.424 ton senilai USD1,28 miliar, kepiting dan rajungan dengan volume 10.833 ton senilai USD277 juta, dan tuna dengan volume 22.000 ton dengan nilai sebesar USD128 juta.

"AS merupakan pasar ekspor terbesar bagi komoditas udang serta kepiting dan rajungan Indonesia. Peningkatan ekspor udang dari 2013 ke 2014 dari sisi volume sebesar 30,16% dan dari sisi nilai sebesar 45,44%. Adapun peningkatan dari 2013 ke 2014 untuk kepiting dan rajungan dari sisi volume sebesar 5,50% dan dari sisi nilai sebesar 45,89%," pungkas Saut.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Program SSMQC Resmi...
Program SSMQC Resmi Dilaunching untuk Efisiensi Waktu dan Biaya Ekspor Impor
Nilai Ekspor Impor Sulsel...
Nilai Ekspor Impor Sulsel Alami Penurunan
CORE: Perdagangan Surplus,...
CORE: Perdagangan Surplus, Tapi Gara-gara Impornya Terkontraksi
Aktivitas Ekspor-Impor...
Aktivitas Ekspor-Impor Sulsel Meningkat Pada Februari 2022
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Istilah-istilah dalam...
Istilah-istilah dalam Ekspor-Impor yang Wajib Diketahui Para Pebisnis
Berita Terkini
IHSG Berakhir Longsor...
IHSG Berakhir Longsor 1,70% ke Posisi 5.839, Ada 651 Saham Berjatuhan
9 menit yang lalu
Harga Avtur Makin Mahal,...
Harga Avtur Makin Mahal, Maskapai Raksasa AS Mendadak Batalkan 6 Rute Penerbangan!
17 menit yang lalu
BI Respons Rupiah Tembus...
BI Respons Rupiah Tembus Rp18.000, Samakan Nasib dengan Tetangga RI
2 jam yang lalu
Pemerintah Pastikan...
Pemerintah Pastikan Harga MinyaKita Naik, Ini Sebabnya
3 jam yang lalu
Pastikan Kelancaran...
Pastikan Kelancaran Pemulangan Jemaah Haji, Garuda Indonesia Intensif Koordinasi dengan Arab Saudi
3 jam yang lalu
DSI Dinilai Bisa Perkuat...
DSI Dinilai Bisa Perkuat Ekspor dan Transparansi Tata Kelola SDA
3 jam yang lalu
Infografis
Sniper Udara Paling...
'Sniper Udara' Paling Ditakuti Dunia Perkuat Pertahanan Udara Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved