Hilirisasi dan Penguatan Pasar Domestik Kunci Menghadapi Ketidakpastian Global

Selasa, 14 Februari 2023 - 16:30 WIB
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid menilai, meski ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh 5,3% di tahun ini namun ancaman resesi global perlu diwaspadai. Pasalnya resesi global berpotensi menurunkan permintaan ekspor karena menurunnya permintaan global dan risiko kenaikan harga bahan baku impor.

"Hal ini tentu menjadi tantangan terutama bagi industri yang berorientasi ekspor. Dan disini penguatan pasar domestik menjadi penting, menjadi kunci keberlangsungan usaha di tengah ketidakpastian global," katanya.

Oleh sebab itu, penguatan rantai nilai domestik atau domestic value chain menjadi peluang yang harus bisa dioptimalkan Indonesia. "Kadin juga melihat ada dua kunci utama agar Indonesia bisa resilience dalam menghadapi gejolak ekonomi 2023. Pertama, penguatan UMKM dan kedua, hilirisasi," tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengaku, dunia sedang mengalami fracture economy dimana banyak negara lebih melihat kepentingan ekonomi di dalam negerinya dibandingkan menjalin kerja sama multilateral atau kerja sama perdagangan secara luas, serta globalisasi yang mundur paska pandemi Covid-19. Untuk menggenjot ekspor, lanjutnya, pemerintah bisa memanfaatkan kondisi tersebut dengan menjalin kerja sama bilateral atau bersinergi dengan beberapa negara.

"Saya pikir ini kesempatan yang sangat baik untuk membangun hubungan bilateral. Nggak perlu jauh-jauh ada Vietnam, Filipina, Malaysia yang memuji-muji Indonesia. Itu bisa menjadi momentum untuk kita bisa penetrasi ekspor produk-produk industri ataupun produk hilirisasi," imbuhnya.

Di sisi lain, BPJS Ketenagakerjaan atau BPJamsostek menilai ada sejumlah tantangan utama bagi perekonomian dunia yakni ketegangan Geopolitik, ancaman resesi global, climate change & digitalisasi.Tahun 2023 masih akan banyak tantangan dari dampak inflasi global yang masih tinggi dan pengetatan kebijakan moneter dunia.

Namun, menurut Asisten Deputi Bidang Kepesertaan Skala Besar BPJamsostek, A. Fauzan, Indonesia beruntung memiliki modal yang baik dengan ekonomi yang relatif lebih resilien tetapi harus tetap waspadadalam mengelola sektor keuangan. Kendati demikian, masyarakat atau tenaga kerja tetap butuh perlindungan sosial jika suatu saat dampak ekonomi global mempengaruhi tempatnya bekerja.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!