Bertahan dalam Pandemi karena Sarat Inovasi
Sabtu, 18 Juli 2020 - 13:08 WIB
Zalfa hadir sebagai penebus rasa bersalah kepada ratusan konsumennya karena dulu telah menjual produk perawatan yang berbahaya. "Saya sampai depresi, omset miliaran saya tinggalkan karena selama itu saya hanya menebar racun. Konsumen saya sampai ada yang berkali-kali keguguran dan anaknya cacat kemungkinan akibat menggunakan produk saya," kenang Aya. (Baca juga: Matahari Masih 'Bersinar' Saat Pandemi, Gerai Ketiga Tahun Ini Diresmikan)
Rasa menyesalnya kemudian dituangkan dalam bentuk buku mengenai perawatan aman untuk kulit. Selanjutnya, lahirlah Zalfa sebagi solusi dari produk berbahaya yang banyak beredar karena baginya tak cukup hanya sekadar buku. Sehingga, komitmen mengedukasi konsumen menjadi prioritasnya dan malah justru terkadang menjadi tantangan berat baginya.
"Kami juga menanamkan mindset bahwa produk Zalfa tidak instan hasilnya. Saya dan tim fokus mengedukasi manfaat bahan kandungan dalam setiap produk bukan hanya menjual hasil akhir," sambungnya.
Konsumen Zalfa terdiri dari orang-orang kelas menengah. Biasanya para anak muda yang baru mencoba skin care dan orang-orang yang konsern terhadap kehalalan produk. Sehingga, ketika bersaing dengan produk perawatan kulit yang berasal dari luar negeri, Aya tidak gentar.
Sejak 2013 hingga saat ini jatuh bangun dihadapi membuatnya semakin sadar untuk terus mengembangkan produknya bukan hanya untuk perawatan, namun juga kosmetik.
"Semua karena permintaan konsumen dan terus melihat kebutuhan pasar. Konsumen minta lip cream sampai bedak. Namun saya tidak ingin asal sehingga butuh waktu bertahun-tahun untuk riset memberikan produk terbaik," ungkapnya. (Lihat videonya: Pasien Covid-19 Kabur dari Rumah Sakit karena Takut Biaya Mahal)
Seperti bedak yang masih dalam proses riset sejak empat tahun silam. Aya ingin bedak yang dikeluarkan Zalfa cocok juga dengan produk perawatan kulit yang dikeluarkan sebelumnya. Konsumen bisa menggunakan make up sambil terus merawat kulit mereka. (Ananda Nararya)
Rasa menyesalnya kemudian dituangkan dalam bentuk buku mengenai perawatan aman untuk kulit. Selanjutnya, lahirlah Zalfa sebagi solusi dari produk berbahaya yang banyak beredar karena baginya tak cukup hanya sekadar buku. Sehingga, komitmen mengedukasi konsumen menjadi prioritasnya dan malah justru terkadang menjadi tantangan berat baginya.
"Kami juga menanamkan mindset bahwa produk Zalfa tidak instan hasilnya. Saya dan tim fokus mengedukasi manfaat bahan kandungan dalam setiap produk bukan hanya menjual hasil akhir," sambungnya.
Konsumen Zalfa terdiri dari orang-orang kelas menengah. Biasanya para anak muda yang baru mencoba skin care dan orang-orang yang konsern terhadap kehalalan produk. Sehingga, ketika bersaing dengan produk perawatan kulit yang berasal dari luar negeri, Aya tidak gentar.
Sejak 2013 hingga saat ini jatuh bangun dihadapi membuatnya semakin sadar untuk terus mengembangkan produknya bukan hanya untuk perawatan, namun juga kosmetik.
"Semua karena permintaan konsumen dan terus melihat kebutuhan pasar. Konsumen minta lip cream sampai bedak. Namun saya tidak ingin asal sehingga butuh waktu bertahun-tahun untuk riset memberikan produk terbaik," ungkapnya. (Lihat videonya: Pasien Covid-19 Kabur dari Rumah Sakit karena Takut Biaya Mahal)
Seperti bedak yang masih dalam proses riset sejak empat tahun silam. Aya ingin bedak yang dikeluarkan Zalfa cocok juga dengan produk perawatan kulit yang dikeluarkan sebelumnya. Konsumen bisa menggunakan make up sambil terus merawat kulit mereka. (Ananda Nararya)
(ysw)
Lihat Juga :