Dukung Pencapaian NZE 2060, PLN Terus Kembangkan Pembangkit EBT
Rabu, 16 Agustus 2023 - 08:27 WIB
Untuk strategi jangka panjang, lanjut Warsono, PLN akan meningkatkan lebih lanjut penggunaan energi baru terbarukan (EBT). Untuk itu PLN sudah melakukan kajian untuk mengimplementasi terkait hydrogen co-firing. "Kami juga sudah melakukan kajian terkait CCU/CCUS dan bagaimana implementasinya ke depan. Coal retirement juga menjadi salah satu pertimbangan untuk mengurangi karbon, termasuk di antaranya penggunaan teknologi nuklir," paparnya.
PLN, ujar dia, berinisiatif melakukan upaya tersebut melalui RUPTL Paling Hijau yang menekankan upaya dekarbonisasi pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil dan pengembangan EBT. Dalam hal ini PLN sudah melakukan dekarbonisasi pembangkit listrik berbahan bakar fosil, pembatalan PPA PLTU batu bara, mengganti PLTU dengan pembangkit gas yang lebih ramah emisinya, uji coba karbon trading. "Yang tidak kalah pentingnya adalah roll out smart grid di beberapa pulau," katanya.
Untuk itu, PLN juga telah merancang tiga skenario transisi energi dengan total pendanaan modal yang dibutuhkan sebesar USD50-130 miliar dengan potensi pendanaan JETP sebesar USD20 miliar. Dengan demikian, kata dia, ada kekurangan kebutuhan pendanaan sebesar USD30-USD110 miliar sampai tahun 2040. Warsono mengatakan, pendanaan multiplatform transisi energi memberikan fleksibilitas untuk mendapatkan pendanaan yang kompetitif. "Berbagai macam funding yang memungkinkan perlu kita bangun untuk menggapai akselerasi transisi energi," jelasnya.
Baca Juga: 7 Kudeta di Afrika, Kebangkitan Melawan Bekas Penjajah Barat dan Neokolonialisme Eropa
Sementara, Kepala Biro Perencanaan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Chrisnawan Anditya mengatakan, pemerintah telah menyusun roadmap untuk mencapai NZE pada 2060 atau lebih cepat. Di antaranya, di sisi suplai dengan pengembangan EBT termasuk hidrogen dan nuklir, dan early retirement PLTU, CCU/CCUS.
PLN, ujar dia, berinisiatif melakukan upaya tersebut melalui RUPTL Paling Hijau yang menekankan upaya dekarbonisasi pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil dan pengembangan EBT. Dalam hal ini PLN sudah melakukan dekarbonisasi pembangkit listrik berbahan bakar fosil, pembatalan PPA PLTU batu bara, mengganti PLTU dengan pembangkit gas yang lebih ramah emisinya, uji coba karbon trading. "Yang tidak kalah pentingnya adalah roll out smart grid di beberapa pulau," katanya.
Untuk itu, PLN juga telah merancang tiga skenario transisi energi dengan total pendanaan modal yang dibutuhkan sebesar USD50-130 miliar dengan potensi pendanaan JETP sebesar USD20 miliar. Dengan demikian, kata dia, ada kekurangan kebutuhan pendanaan sebesar USD30-USD110 miliar sampai tahun 2040. Warsono mengatakan, pendanaan multiplatform transisi energi memberikan fleksibilitas untuk mendapatkan pendanaan yang kompetitif. "Berbagai macam funding yang memungkinkan perlu kita bangun untuk menggapai akselerasi transisi energi," jelasnya.
Baca Juga: 7 Kudeta di Afrika, Kebangkitan Melawan Bekas Penjajah Barat dan Neokolonialisme Eropa
Sementara, Kepala Biro Perencanaan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Chrisnawan Anditya mengatakan, pemerintah telah menyusun roadmap untuk mencapai NZE pada 2060 atau lebih cepat. Di antaranya, di sisi suplai dengan pengembangan EBT termasuk hidrogen dan nuklir, dan early retirement PLTU, CCU/CCUS.
Lihat Juga :