Sri Lanka Berterima Kasih ke China Usai Capai Kesepakatan Utang Rp65,4 Triliun
Minggu, 15 Oktober 2023 - 23:20 WIB
"Kesepakatan ini merupakan tonggak penting dalam upaya berkelanjutan Sri Lanka untuk mendorong pemulihan ekonominya," sambungnya, meski Kementerian tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang perjanjian tersebut.
Baca Juga: Pasang Jebakan Utang, Begini Cara China Sita Aset Pelabuhan Sri Lanka
Sebagai informasi Sri Lanka memiliki total utang luar negeri sebesar USD46,9 miliar, dimana 52% di antaranya berutang kepada China, untuk menjadikan Negeri Tirai Bambu sebagai pemberi pinjaman terbesarnya.
Mencapai kesepakatan dengan semua krediturnya akan memungkinkan Sri Lanka untuk terus mengakses dana dari program bailout USD3 miliar dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Tahap berikutnya senilai USD330 juta telah ditahan sejak bulan lalu setelah Sri Lanka dan IMF gagal menyepakati persyaratan untuk pencairannya.
Harapan tinggi mencuat bahwa Sri Lanka akan mencapai kesepakatan dengan kreditur lain pada pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Marrakech minggu ini, tetapi mereka dilaporkan telah berjuang untuk mencapai konsensus.
Mereka mungkin khawatir bahwa China berhasil menegosiasikan persyaratan khusus berkaitan dengan pinjaman, menurut Dhananath Fernando dari think tank Advocata yang berbasis di Kolombo.
Baca Juga: Pasang Jebakan Utang, Begini Cara China Sita Aset Pelabuhan Sri Lanka
Sebagai informasi Sri Lanka memiliki total utang luar negeri sebesar USD46,9 miliar, dimana 52% di antaranya berutang kepada China, untuk menjadikan Negeri Tirai Bambu sebagai pemberi pinjaman terbesarnya.
Mencapai kesepakatan dengan semua krediturnya akan memungkinkan Sri Lanka untuk terus mengakses dana dari program bailout USD3 miliar dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Tahap berikutnya senilai USD330 juta telah ditahan sejak bulan lalu setelah Sri Lanka dan IMF gagal menyepakati persyaratan untuk pencairannya.
Harapan tinggi mencuat bahwa Sri Lanka akan mencapai kesepakatan dengan kreditur lain pada pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Marrakech minggu ini, tetapi mereka dilaporkan telah berjuang untuk mencapai konsensus.
Mereka mungkin khawatir bahwa China berhasil menegosiasikan persyaratan khusus berkaitan dengan pinjaman, menurut Dhananath Fernando dari think tank Advocata yang berbasis di Kolombo.
Lihat Juga :