Daya Beli Menurun, Industri Ritel Bisa Babak Belur
Rabu, 05 Agustus 2020 - 10:12 WIB
Secara keseluruhan, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan industri ritel tumbuh di bawah 1% pada semester I/2020. Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey. Menurutnya, penyusutan pertumbuhan ritel sudah diprediksi. Satu di antara penyebabnya adalah rendahnya daya beli masyarakat akibat banyak perusahaan yang merumahkan karyawan dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). (Baca juga: Industri Rokok Dibunuh, Jutaan Pekerja Mau Ditaruh Dimana?)
Meski demikian, industri ritel masih punya secercah harapan untuk tumbuh pada semester II/2020. Pasalnya, Presiden RI Joko Widodo telah meminta “anak buahnya” untuk mempercepat realisasi bantuan sosial dan stimulus ekonomi. Dengan demikian, diharapkan dapat mendorong konsumsi masyarakat lebih tinggi dibanding kuartal kedua dan kuartal ketiga mendatang.
“Apalagi, masih ada momentum libur Natal dan Tahun Baru yang di mana biasanya masyarakat mulai meningkatkan konsumsinya,” kata Roy di Jakarta kemarin.
Tidak bisa dipungkiri, konsumsi rumah tangga khususnya pada kelompok kelas menengah bawah mengalami tekanan paling besar akibat pandemi Covid-19. Tekanan konsumsi swasta paling besar terjadi pada kuartal kedua tahun ini dan diperkirakan mulai reda pada kuartal III/2020.
“Indeks penjualan riil (IPR), indikator yang memotret perkembangan penjualan barang-barang konsumsi masyarakat, tumbuh -20,6% (yoy) pada bulan Mei,” kata Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal di Jakarta belum lama ini. (Baca juga: Arkeolog Israel Menemukan 'Wajah Tuhan')
Meski demikian, industri ritel masih punya secercah harapan untuk tumbuh pada semester II/2020. Pasalnya, Presiden RI Joko Widodo telah meminta “anak buahnya” untuk mempercepat realisasi bantuan sosial dan stimulus ekonomi. Dengan demikian, diharapkan dapat mendorong konsumsi masyarakat lebih tinggi dibanding kuartal kedua dan kuartal ketiga mendatang.
“Apalagi, masih ada momentum libur Natal dan Tahun Baru yang di mana biasanya masyarakat mulai meningkatkan konsumsinya,” kata Roy di Jakarta kemarin.
Tidak bisa dipungkiri, konsumsi rumah tangga khususnya pada kelompok kelas menengah bawah mengalami tekanan paling besar akibat pandemi Covid-19. Tekanan konsumsi swasta paling besar terjadi pada kuartal kedua tahun ini dan diperkirakan mulai reda pada kuartal III/2020.
“Indeks penjualan riil (IPR), indikator yang memotret perkembangan penjualan barang-barang konsumsi masyarakat, tumbuh -20,6% (yoy) pada bulan Mei,” kata Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal di Jakarta belum lama ini. (Baca juga: Arkeolog Israel Menemukan 'Wajah Tuhan')
Lihat Juga :