Rupiah Hampir Sentuh Rp16 Ribu, Mantan Menkeu Chatib Basri Bilang BI Punya 3 Opsi Ini
Selasa, 24 Oktober 2023 - 20:52 WIB
Ekonom Chatib Basri menilai pelemahan rupiah yang saat ini terjadi tidak terlepas dari adanya tekanan pasar keuangan global. Mantan Menkeu ini juga membandingkan dengan ringgit Malaysia dan yen Jepang. Foto/Dok
JAKARTA - Ekonom senior, Chatib Basri menilai pelemahan rupiah yang saat ini terjadi tidak terlepas dari adanya tekanan pasar keuangan global. Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sempat hampir menyentuh Rp16.000 pada awal pekan ini.
Baca Juga: Rupiah Terus Melemah ke Rp15.708/USD, Menko Airlangga: Bukan Cuma Indonesia, Jadi Tenang Saja
Diakui Chatib, saat ini ekonomi dunia memang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Karena dalam satu bulan terakhir terlihat bahwa tingkat imbal hasil atau bond yield di US Treasury meningkat tajam. Menurutnya, hal ini pun berbeda dengan fenomena kenaikan bon yield akibat kekhawatiran tingginya laju inflasi.
"Kalau argumennya ketakutan mengenai inflasi, maka seharusnya kita melihat ada kecendrungan di AS inflasi headlinenya sudah mulai agak rendah, corenya juga. Tapi kenapa tiba-tiba bond yieldnya naik? Ekspetasinya bahwa di AS less likely terjadi resesi saat ini, kelihatan dari numbernya yang sangat strong," tuturnya ketika ditemui di Jakarta, Selasa (24/10/2023).
Baca Juga: Rupiah Kejeblos ke Rp15.700/USD, Ekonom Memperingatkan: Ini Sudah Warning!
Selain itu, Mantan Menteri Keuangan ini juga menilai bahwa saat ini pemegang obligasi di AS telah melihat risiko dari resesi sehingga mengakibatkan suplai dari obligasi di AS naik, sementara permintaan mengalami penurunan.
Baca Juga: Rupiah Terus Melemah ke Rp15.708/USD, Menko Airlangga: Bukan Cuma Indonesia, Jadi Tenang Saja
Diakui Chatib, saat ini ekonomi dunia memang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Karena dalam satu bulan terakhir terlihat bahwa tingkat imbal hasil atau bond yield di US Treasury meningkat tajam. Menurutnya, hal ini pun berbeda dengan fenomena kenaikan bon yield akibat kekhawatiran tingginya laju inflasi.
"Kalau argumennya ketakutan mengenai inflasi, maka seharusnya kita melihat ada kecendrungan di AS inflasi headlinenya sudah mulai agak rendah, corenya juga. Tapi kenapa tiba-tiba bond yieldnya naik? Ekspetasinya bahwa di AS less likely terjadi resesi saat ini, kelihatan dari numbernya yang sangat strong," tuturnya ketika ditemui di Jakarta, Selasa (24/10/2023).
Baca Juga: Rupiah Kejeblos ke Rp15.700/USD, Ekonom Memperingatkan: Ini Sudah Warning!
Selain itu, Mantan Menteri Keuangan ini juga menilai bahwa saat ini pemegang obligasi di AS telah melihat risiko dari resesi sehingga mengakibatkan suplai dari obligasi di AS naik, sementara permintaan mengalami penurunan.
Lihat Juga :