Keuangan Israel Babak Belur Usai Gempur Hamas, Per Hari Rugi Rp4 Triliun

Jum'at, 17 November 2023 - 13:50 WIB
“Tetapi tidak ada keraguan bahwa perang ini akan mempunyai implikasi fiskal yang akan bergantung pada intensitas dan durasinya,” katanya dalam pernyataan yang dipublikasikan.

“Namun, dengan penyesuaian anggaran yang tepat, yang saya yakini dapat dikelola, seharusnya tidak ada perubahan besar pada posisi fundamental fiskal kita," bebernya.

Dia mencatat bahwa Israel memasuki perang ini dengan posisi fiskal yang sangat solid – rasio utang terhadap PDB tepat di bawah 60% dan defisit anggaran sekitar 1,5% PDB dengan proyeksi serupa untuk tahun 2024.

“Pengalaman masa lalu telah menunjukkan ketahanan keuangan publik Israel terhadap konflik militer,” kata Yaron, seraya menambahkan, bahwa dalam konflik-konflik sebelumnya selama 30 tahun terakhir, pemerintah mampu menanggung biaya tambahan untuk beri dukungan militer dan sipil dalam kerangka fiskal yang bertanggung jawab.

Lalu “kembali dengan cepat ke penurunan rasio utang terhadap PDB karena kuatnya pemulihan perekonomian domestik," bebernya.

Yaron juga menerangkan, cadangan devisa Israel saat ini sebesar USD200 miliar "memberi kita kapasitas yang cukup untuk mendukung perekonomian Israel."

Dia menambahkan, risiko terbesar terhadap inflasi dalam sembilan bulan terakhir dan bahkan sekarang lebih besar lagi adalah depresiasi syikal. Tingkat inflasi mencapai 4,1% pada bulan Agustus dan masih terlalu dini untuk mengatakan bagaimana dislokasi penawaran dan permintaan akan berdampak pada inflasi.

Yaron juga meminta pemerintah untuk memerangi transaksi keuangan yang dilakukan kelompok teror. “Hentikan jalur dan sumber uang negara-negara dan organisasi-organisasi yang mensponsori terorisme, dan bertindak tegas untuk menghilangkan aliran keuangan yang berbahaya bagi diri kita sendiri dan sistem global kita,” ujarnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!