Menakar Dampak Perang Iran-Israel ke Indonesia: Guncang Mata Uang hingga Harga Minyak
Rabu, 17 April 2024 - 12:27 WIB
David menambahkan, ini diperparah lagi dengan kondisi terakhir. Seperti kita ketahui, akhir minggu lalu ada serangan Iran ke Israel dan banyak mata uang termasuk harga minyak sedikit meningkat.
"Karena sebelumnya pasar sudah berekspektasi, me-price it kemungkinan ketegangannya memuncak pasca serangan Israel terhadap konsulat di Damaskus, memang sudah dalam ekspektasi sehingga pasar bergerak duluan," ungkap David.
Kemudian yang belum di ekspektasi pasar adalah bagaimana reaksi Israel, serangannya seperti apa, apakah dilakukan serangan balik ke Iran dan skalanya seberapa besar. Dilanjutkan adalah bagaimana reaksi Iran? Skenario terburuk adalah jika blokade di Selat Hormuz yang merupakan lalu lintas sekitar 70% minyak global.
Meski begitu, menurut David, surprisingly ekonomi global di kuartal I relatif baik, Amerika Serikat (AS) pertumbuhannya masih sesuai ekspektasi, China bahkan mengumumkan kemarin bisa tumbuh 5,3% di kuartal I.
"Ini di luar dugaan pasar juga, retail sales juga kemarin diumumkan di Amerika ini melebihi ekspektasi, jadi inflasi masih kuat di Amerika ya 3,5% sudah 3 bulan berturut-turut, inflasi Amerika lebih tinggi dari ekspektasi pasar jadi artinya masih cukup strong di awal tahun," jelasnya.
Dengan adanya pergolakan geopolitik ini, lanjut David, kemungkinan bisa saja ada perubahan, tergantung bagaimana dinamika seperti serangan balasan dan yang lainnya.
"Karena sebelumnya pasar sudah berekspektasi, me-price it kemungkinan ketegangannya memuncak pasca serangan Israel terhadap konsulat di Damaskus, memang sudah dalam ekspektasi sehingga pasar bergerak duluan," ungkap David.
Kemudian yang belum di ekspektasi pasar adalah bagaimana reaksi Israel, serangannya seperti apa, apakah dilakukan serangan balik ke Iran dan skalanya seberapa besar. Dilanjutkan adalah bagaimana reaksi Iran? Skenario terburuk adalah jika blokade di Selat Hormuz yang merupakan lalu lintas sekitar 70% minyak global.
Meski begitu, menurut David, surprisingly ekonomi global di kuartal I relatif baik, Amerika Serikat (AS) pertumbuhannya masih sesuai ekspektasi, China bahkan mengumumkan kemarin bisa tumbuh 5,3% di kuartal I.
"Ini di luar dugaan pasar juga, retail sales juga kemarin diumumkan di Amerika ini melebihi ekspektasi, jadi inflasi masih kuat di Amerika ya 3,5% sudah 3 bulan berturut-turut, inflasi Amerika lebih tinggi dari ekspektasi pasar jadi artinya masih cukup strong di awal tahun," jelasnya.
Dengan adanya pergolakan geopolitik ini, lanjut David, kemungkinan bisa saja ada perubahan, tergantung bagaimana dinamika seperti serangan balasan dan yang lainnya.
Lihat Juga :