Pertumbuhan Kredit Tinggi, Prospek Sektor Perbankan Cerah
Selasa, 23 April 2024 - 20:00 WIB
"Kami memandang bahwa dengan kebijakan makroprudensial yang longgar dan disertai dengan likuiditas yang masih memadai, pertumbuhan kredit masih akan tetap kuat dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia meski di tengah berbagai tantangan di sepanjang tahun 2024 ini," ujar Rully.
Baca Juga: PDIP Tegaskan Jokowi dan Gibran Bukan Lagi Kader Partai
Kendati demikian, Rully juga menilai perbankan perlu terus memitigasi risiko agar stabilitas sektor keuangan tetap terjaga. Dia menilai perbankan sepertinya memang akan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit mengingat kebijakan stimulus restrukturisasi kredit perbankan untuk dampak Covid-19 telah berakhir per tanggal 31 Maret 2024.
Di luar perbankan, Rully menilai kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih dihadapkan dengan banyak tantangan. Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah tingginya tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pergerakan rupiah dalam jangka menengah menurutnya masih sangat sulit untuk diprediksi karena sangat dipengaruhi oleh isu global, bukan dipengaruhi oleh kondisi di dalam negeri.
Rully menyebutkan tren pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh sentimen higher-for-longer suku bunga kebijakan the Fed yang kembali menyebabkan volatilitas dan ketidakpastian pasar global. "Sentimen global tersebut, yang juga berdampak kepada besarnya aliran modal asing keluar dari Indonesia, menyulitkan BI untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat,” pungkasnya.
Baca Juga: PDIP Tegaskan Jokowi dan Gibran Bukan Lagi Kader Partai
Kendati demikian, Rully juga menilai perbankan perlu terus memitigasi risiko agar stabilitas sektor keuangan tetap terjaga. Dia menilai perbankan sepertinya memang akan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit mengingat kebijakan stimulus restrukturisasi kredit perbankan untuk dampak Covid-19 telah berakhir per tanggal 31 Maret 2024.
Di luar perbankan, Rully menilai kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih dihadapkan dengan banyak tantangan. Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah tingginya tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pergerakan rupiah dalam jangka menengah menurutnya masih sangat sulit untuk diprediksi karena sangat dipengaruhi oleh isu global, bukan dipengaruhi oleh kondisi di dalam negeri.
Rully menyebutkan tren pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh sentimen higher-for-longer suku bunga kebijakan the Fed yang kembali menyebabkan volatilitas dan ketidakpastian pasar global. "Sentimen global tersebut, yang juga berdampak kepada besarnya aliran modal asing keluar dari Indonesia, menyulitkan BI untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat,” pungkasnya.
(fjo)
Lihat Juga :