Arab Saudi Bantah Skala Kota Futuristik NEOM Diciutkan
Selasa, 30 April 2024 - 11:39 WIB
Mengutip sumber anonim yang mengetahui masalah ini, laporan awal Bloomberg mengatakan bahwa rencana awal pemerintah Saudi untuk memiliki 1,5 juta orang yang tinggal di The Line pada tahun 2030 dipangkas menjadi hanya 300.000 orang.
Pengurangan rencana tersebut, setidaknya dalam jangka menengah, terjadi di tengah laporan kekhawatiran mengenai pendanaan untuk NEOM, yang merupakan bagian dari inisiatif Visi 2030 kerajaan yang lebih luas untuk mendiversifikasi perekonomiannya dari minyak. Dana kekayaan negara Arab Saudi, Dana Investasi Publik, belum menyetujui anggaran NEOM untuk tahun 2024, menurut laporan Bloomberg.
Al Ibrahim menekankan bahwa proyek-proyek tersebut akan dilaksanakan sesuai rencana, tetapi dengan kualifikasi bahwa keputusan dibuat untuk dampak ekonomi yang optimal. "Kami melihat masukan dari pasar, kami melihat lebih banyak minat dari investor dan kami akan selalu memprioritaskan pada hal-hal yang dapat kami optimalkan untuk mendapatkan dampak ekonomi yang optimal," ujarnya.
"Saat ini, perekonomian di Kerajaan tumbuh lebih cepat, namun kami tidak ingin terlalu memanaskannya. Kami tidak ingin menyelesaikan proyek-proyek ini dengan biaya impor yang terlalu besar dan bertentangan dengan kepentingan kami sendiri. Kami akan terus melaksanakan proyek-proyek ini dengan cara yang memenuhi prioritas-prioritas ini, melaksanakan proyek-proyek ini dan memberikan dampak sehat yang optimal bagi perekonomian kita dan pertumbuhan non-minyak yang sehat di dalamnya," papar Al Ibrahim.
Baca Juga: Indonesia Diprediksi Surplus Beras, Pengamat Pangan Beri Catatan Ini
Pengurangan rencana tersebut, setidaknya dalam jangka menengah, terjadi di tengah laporan kekhawatiran mengenai pendanaan untuk NEOM, yang merupakan bagian dari inisiatif Visi 2030 kerajaan yang lebih luas untuk mendiversifikasi perekonomiannya dari minyak. Dana kekayaan negara Arab Saudi, Dana Investasi Publik, belum menyetujui anggaran NEOM untuk tahun 2024, menurut laporan Bloomberg.
Al Ibrahim menekankan bahwa proyek-proyek tersebut akan dilaksanakan sesuai rencana, tetapi dengan kualifikasi bahwa keputusan dibuat untuk dampak ekonomi yang optimal. "Kami melihat masukan dari pasar, kami melihat lebih banyak minat dari investor dan kami akan selalu memprioritaskan pada hal-hal yang dapat kami optimalkan untuk mendapatkan dampak ekonomi yang optimal," ujarnya.
"Saat ini, perekonomian di Kerajaan tumbuh lebih cepat, namun kami tidak ingin terlalu memanaskannya. Kami tidak ingin menyelesaikan proyek-proyek ini dengan biaya impor yang terlalu besar dan bertentangan dengan kepentingan kami sendiri. Kami akan terus melaksanakan proyek-proyek ini dengan cara yang memenuhi prioritas-prioritas ini, melaksanakan proyek-proyek ini dan memberikan dampak sehat yang optimal bagi perekonomian kita dan pertumbuhan non-minyak yang sehat di dalamnya," papar Al Ibrahim.
Baca Juga: Indonesia Diprediksi Surplus Beras, Pengamat Pangan Beri Catatan Ini
Lihat Juga :