Penggerak Pertumbuhan Ekonomi, UMKM Jadi Tumpuan Bisnis BRI di Masa Depan
Jum'at, 21 Agustus 2020 - 06:43 WIB
Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo menambahkan, penurunan laba perseroan lebih disebabkan adanya program penyelamatan UMKM akibat Covid-19 sehingga menggerus pendapatan bunga.
"Penurunan ini supaya kita menyelamatkan UMKM berupa restrukturisasi dan melakukan beberapa inisiatif kepada debitor dengan penurunan suku bunga," kata Haru.
Adanya restrukturisasi, menurut Haru, berdampak pada terlambatnya atau tidak diterimanya pendapatan bunga sehingga net interest margin (NIM) BRI turun menjadi 5,6%. Ke depan, jika restrukturisasi kredit sudah mulai optimal yang artinya penambahan sudah melandai, diharapkan NIM akhir tahun bisa sekitar 5,6%.
Hingga akhir semester I/2020, pendapatan berbasis komisi BRI tercatat sebesar Rp7,46 triliun atau tumbuh 18,59% yoy. Adapun aset konsolidasian mencapai Rp1.387,76 triliun atau tumbuh 7,73% yoy. (Lihat videonya: Jejak Tradisi Malam 1 Suro dan Suronan di Pesantren)
Pada kesempatan tersebut Haru mengungkapkan bahwa BRI mampu menjaga loan to deposit ratio (LDR) secara ideal di angka 86,06% atau lebih rendah dari LDR BRI pada akhir Juni 2019 yang sebesar 92,81%. Sementara itu, dari sisi permodalan, BRI mampu menjaganya secara optimal dengan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR)pada level20,15%.
"Artinya kita masih cukup likuiditas. CAR juga masih kondusif sehingga bisa mendorong kredit dan bisa meng-cover kalau sewaktu-waktu ada risiko," ungkap dia. (Kunthi Fahmar Sandy)
"Penurunan ini supaya kita menyelamatkan UMKM berupa restrukturisasi dan melakukan beberapa inisiatif kepada debitor dengan penurunan suku bunga," kata Haru.
Adanya restrukturisasi, menurut Haru, berdampak pada terlambatnya atau tidak diterimanya pendapatan bunga sehingga net interest margin (NIM) BRI turun menjadi 5,6%. Ke depan, jika restrukturisasi kredit sudah mulai optimal yang artinya penambahan sudah melandai, diharapkan NIM akhir tahun bisa sekitar 5,6%.
Hingga akhir semester I/2020, pendapatan berbasis komisi BRI tercatat sebesar Rp7,46 triliun atau tumbuh 18,59% yoy. Adapun aset konsolidasian mencapai Rp1.387,76 triliun atau tumbuh 7,73% yoy. (Lihat videonya: Jejak Tradisi Malam 1 Suro dan Suronan di Pesantren)
Pada kesempatan tersebut Haru mengungkapkan bahwa BRI mampu menjaga loan to deposit ratio (LDR) secara ideal di angka 86,06% atau lebih rendah dari LDR BRI pada akhir Juni 2019 yang sebesar 92,81%. Sementara itu, dari sisi permodalan, BRI mampu menjaganya secara optimal dengan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR)pada level20,15%.
"Artinya kita masih cukup likuiditas. CAR juga masih kondusif sehingga bisa mendorong kredit dan bisa meng-cover kalau sewaktu-waktu ada risiko," ungkap dia. (Kunthi Fahmar Sandy)
(ysw)
Lihat Juga :