Sanksi Barat Bikin Ribet, Rusia dan China Makin Sering Pakai Aset Digital
Jum'at, 26 Juli 2024 - 19:54 WIB
Baca Juga: Israel Bakal Punya Mata Uang Digital, Begini Rencana Bank Sentral
Menghadapi rintangan tersebut, Qifa yang beroperasi di Beijing dan Moskow dan akan segera terdaftar di Bursa Moskow, telah beralih ke aset digital. Bahkan penyelesaian cryptocurrency , bisa dilakukan hanya dalam satu hari.
Pendiri Qifa, Sun Tianshu mengatakan, perusahaan memantau dengan cermat undang-undang di kedua sisi perbatasan dan sudah memfasilitasi pembayaran lintas batas menggunakan tether (USDT) - yang disebut 'stablecoin' yang mempertahankan nilai tetap dalam dolar.
Rusia mengizinkan penyelesaian menggunakan beberapa aset keuangan digital yang dapat melewati sistem perbankan seperti tether. Parlemen Rusia juga sedang mempertimbangkan RUU yang akan melegalkan semua cryptocurrency sebagai alat pembayaran dalam perdagangan luar negeri.
Menghadapi rintangan tersebut, Qifa yang beroperasi di Beijing dan Moskow dan akan segera terdaftar di Bursa Moskow, telah beralih ke aset digital. Bahkan penyelesaian cryptocurrency , bisa dilakukan hanya dalam satu hari.
Pendiri Qifa, Sun Tianshu mengatakan, perusahaan memantau dengan cermat undang-undang di kedua sisi perbatasan dan sudah memfasilitasi pembayaran lintas batas menggunakan tether (USDT) - yang disebut 'stablecoin' yang mempertahankan nilai tetap dalam dolar.
Rusia mengizinkan penyelesaian menggunakan beberapa aset keuangan digital yang dapat melewati sistem perbankan seperti tether. Parlemen Rusia juga sedang mempertimbangkan RUU yang akan melegalkan semua cryptocurrency sebagai alat pembayaran dalam perdagangan luar negeri.
Patuh Sanksi Barat
"Penundaan pembayaran disebabkan oleh fakta bahwa banyak rekanan Rusia menghadapi meningkatnya kepatuhan dari bank-bank China ke Rusia," kata wakil chairman, Kyle Shostak dalam sebuah wawancara.Lihat Juga :