Sanksi Barat Mulai Mencekik, 98% Bank China Tolak Pembayaran Rusia

Jum'at, 16 Agustus 2024 - 14:31 WIB
Namun, pintu-pintu alternatif itu telah tertutup untuk solusi-solusi ini sejak Desember, ketika AS menyetujui sanksi sekunder yang menargetkan lembaga-lembaga keuangan yang membantu Rusia. Alexey Poroshin, direktur umum firma investasi dan konsultasi First Group, mengatakan kepada Izvestia bahwa beberapa lembaga keuangan di China bahkan mulai menolak pembayaran dalam rubel. Poroshin mengatakan, bank-bank China tidak tertarik untuk berbisnis dengan perusahaan-perusahaan Rusia melalui lembaga-lembaga keuangan di Hong Kong, wilayah administratif khusus di bawah China.

Baca Juga: 5 Fakta Serangan Mendadak Ukraina ke Wilayah Rusia, Salahnya Membangun Zona Penyangga

Ekaterina Kizevich, CEO Atvira, sebuah konsultan perdagangan luar negeri Rusia, mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan Rusia masih mengirim yuan ke China melalui cabang-cabang bank Rusia di daratan, tetapi ada kenaikan biaya sebesar 5%. Negitu pun, banyak perusahaan China masih menolak pembayaran dari cabang bank Rusia di daratan.

Sanksi-sanksi Barat semakin mencekik sehingga Rusia terburu-buru menyiapkan mekanisme pembayaran alternatif. Di antaranya,melakukan transaksi melalui negara pihak ketiga yang "bersahabat". Rusia juga sedang menyiapkan sistem pembayaran alternatif, termasuk kripto, untuk memfasilitasi perdagangan.

Ketatnya cengkraman sanksi juga mendorong Rusia dan China untul mengkaji penggunaan sistem perdagangan kuno, seperti barter. Seperti dilaporkan Reuters, Rusia dan China berencana menghidupkan kembali praktik perdagangan barter yang sudah pernah digunakan kedua negara sebelumnya. Perdagangan barter akan memungkinkan Moskow dan Beijing menghindari masalah pembayaran, mengurangi pantauan regulator Barat atas transaksi bilateral mereka, dan membatasi risiko mata uang.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!