Kilang Pertamina Siap Kembangkan BBM Ramah Lingkungan
Kamis, 10 Oktober 2024 - 18:16 WIB
Saat ini, KPI mampu memproduksi bahan bakar nabati melalui beberapa metode, yang salah satunya mampu memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Kilang Cilacap dengan kapasitas 9.000 bph. KPI juga melakukan pengolahan bahan bakar berbasis CPO yang mampu memproduksi green diesel atau B100. "HVO dari Kilang Cilacap merupakan konversi dari feedstock RDBPO, khususnya produk renewable diesel 100% atau B100 dengan kapasitas 3.000 bph," paparnya.
Taufik menambahkan, KPI juga sudah siap menjalankan rencana pemerintah untuk memproduksiBBM dengan kadar sulfur rendah. Menurut dia, salah satunya adalah Kilang Balongan yang sudah siap untuk memproduksi BBM dengan kadar sulfur 10 ppm. Kemudian, pada tahun depan, Kilang Balikpapan akan mulai beroperasi dan mampu memproduksi BBM berstandar EURO 5 dengan kadar sulfur 10 ppm, untuk jenis gasoline maupun diesel.
“Ini akan meningkatkan kapasitas untuk memenuhi kebutuhan (BBM rendah sulfur) di wilayah Jawa dan Kalimantan. Sedangkilang lainnya masih bervariasi," jelas Taufik.
Baca Juga: Prabowo, Kabinet Gemuk, dan Ragam Sinyal dari Orang Dekatnya
Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arie Rachmadi dalam diskusi tersebut mengakui, penggunaan bahan bakar nabati adalah salah satu cara terbaik untuk menekan emisi yang selama ini banyak dihasilkan oleh kendaraan. Menurut dia, Indonesia berada di jalur yang tepat dengan keberhasilan program biodiesel, sejalan dengan tren global yang semakin mengarah pada penggunaan biofuel.
Taufik menambahkan, KPI juga sudah siap menjalankan rencana pemerintah untuk memproduksiBBM dengan kadar sulfur rendah. Menurut dia, salah satunya adalah Kilang Balongan yang sudah siap untuk memproduksi BBM dengan kadar sulfur 10 ppm. Kemudian, pada tahun depan, Kilang Balikpapan akan mulai beroperasi dan mampu memproduksi BBM berstandar EURO 5 dengan kadar sulfur 10 ppm, untuk jenis gasoline maupun diesel.
“Ini akan meningkatkan kapasitas untuk memenuhi kebutuhan (BBM rendah sulfur) di wilayah Jawa dan Kalimantan. Sedangkilang lainnya masih bervariasi," jelas Taufik.
Baca Juga: Prabowo, Kabinet Gemuk, dan Ragam Sinyal dari Orang Dekatnya
Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arie Rachmadi dalam diskusi tersebut mengakui, penggunaan bahan bakar nabati adalah salah satu cara terbaik untuk menekan emisi yang selama ini banyak dihasilkan oleh kendaraan. Menurut dia, Indonesia berada di jalur yang tepat dengan keberhasilan program biodiesel, sejalan dengan tren global yang semakin mengarah pada penggunaan biofuel.
Lihat Juga :