Dibayangi Ancaman Perang Dagang Baru, Biden dan Xi Jinping Bertemu
Minggu, 17 November 2024 - 07:38 WIB
Trump, pada masa pemerintahan pertama, memulai perang dagang dengan China setelah menyalahkan Beijing atas praktik-praktik perdagangan yang dianggap tidak adil, menurutnya berkontribusi pada defisit perdagangan yang besar dan menguntungkan China. Praktik-praktik tersebut, menurut AS, termasuk kerja paksa, pencurian kekayaan intelektual, dan harga rendah yang tidak adil yang merugikan produsen AS. China pun telah lama membantah tuduhan-tuduhan ini.
Sejak Januari 2018, pemerintahan Trump memberlakukan tarif yang lebih tinggi untuk impor China dengan tarif antara 10-25% di bawah Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan. Beijing menuduh Washington melakukan proteksionisme nasionalis dan membalas dengan tarif yang lebih tinggi pada impor AS.
Namun, menjelang akhir masa jabatan pertama Trump, kedua negara menyetujui sebuah kesepakatan yang akan membuat Washington mengurangi tarif pada beberapa barang. Sebagai gantinya, China berkomitmen untuk meningkatkan hak kekayaan intelektual dan juga membeli tambahan barang AS senilai USD200 miliar di atas level tahun 2017 pada akhir 2021.
Trump memuji kesepakatan dengan Xi Jinping, sebagai sebuah kesuksesan, tetapi para peneliti pada 2022 mengatakan bahwa China hanya membeli barang senilai 58% dari jumlah yang telah mereka sepakati untuk dibeli.
Biden terutama mempertahankan tarif era Trump selama masa jabatannya dan juga memberikan sanksi kepada perusahaan-perusahaan China karena berurusan dengan Rusia, menyusul invasi Rusia ke Ukraina. Pada Mei 2024, Pemerintahan Biden meninjau kembali pembatasan Pasal 301 dan memberlakukan tarif yang lebih tinggi antara 25 hingga 100 persen untuk beberapa impor China. Kendaraan listrik dan sel surya termasuk di antara barang-barang yang terkena dampak.
Biden juga memperketat kontrol ekspor pada teknologi semikonduktor yang penting untuk mengembangkan kecerdasan buatan dan mengancam akan memperluas sanksi pada bank-bank China yang bekerja sama dengan Rusia. Tarif terhadap China saat ini menyumbang USD77 miliar dari USD79 miliar yang diperoleh pemerintah AS melalui tarif, menurut Tax Foundation, sebuah lembaga pemantau yang berbasis di Washington. Pada tahun 2022, defisit perdagangan AS dengan China mencapai USD383 miliar.
Sementara, masa jabatan kedua Trump dapat membuat perang dagang meningkat, demikian prediksi para ekonom. Pilihan kabinet utamanya termasuk beberapa pejabat yang dikenal mendukung sikap yang lebih keras terhadap Beijing, termasuk Senator Florida Marco Rubio. Senator yang ditunjuk Trump sebagai menteri luar negerinya yang akan datang ini berada di bawah sanksi Beijing karena kritiknya yang blak-blakan terhadap kebijakan-kebijakan China.
Baca Juga: Pilot AS Bercerita Kehabisan Rudal saat Menghadapi Ratusan Drone Iran yang Menyerang Israel
Sejak Januari 2018, pemerintahan Trump memberlakukan tarif yang lebih tinggi untuk impor China dengan tarif antara 10-25% di bawah Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan. Beijing menuduh Washington melakukan proteksionisme nasionalis dan membalas dengan tarif yang lebih tinggi pada impor AS.
Namun, menjelang akhir masa jabatan pertama Trump, kedua negara menyetujui sebuah kesepakatan yang akan membuat Washington mengurangi tarif pada beberapa barang. Sebagai gantinya, China berkomitmen untuk meningkatkan hak kekayaan intelektual dan juga membeli tambahan barang AS senilai USD200 miliar di atas level tahun 2017 pada akhir 2021.
Trump memuji kesepakatan dengan Xi Jinping, sebagai sebuah kesuksesan, tetapi para peneliti pada 2022 mengatakan bahwa China hanya membeli barang senilai 58% dari jumlah yang telah mereka sepakati untuk dibeli.
Biden terutama mempertahankan tarif era Trump selama masa jabatannya dan juga memberikan sanksi kepada perusahaan-perusahaan China karena berurusan dengan Rusia, menyusul invasi Rusia ke Ukraina. Pada Mei 2024, Pemerintahan Biden meninjau kembali pembatasan Pasal 301 dan memberlakukan tarif yang lebih tinggi antara 25 hingga 100 persen untuk beberapa impor China. Kendaraan listrik dan sel surya termasuk di antara barang-barang yang terkena dampak.
Biden juga memperketat kontrol ekspor pada teknologi semikonduktor yang penting untuk mengembangkan kecerdasan buatan dan mengancam akan memperluas sanksi pada bank-bank China yang bekerja sama dengan Rusia. Tarif terhadap China saat ini menyumbang USD77 miliar dari USD79 miliar yang diperoleh pemerintah AS melalui tarif, menurut Tax Foundation, sebuah lembaga pemantau yang berbasis di Washington. Pada tahun 2022, defisit perdagangan AS dengan China mencapai USD383 miliar.
Sementara, masa jabatan kedua Trump dapat membuat perang dagang meningkat, demikian prediksi para ekonom. Pilihan kabinet utamanya termasuk beberapa pejabat yang dikenal mendukung sikap yang lebih keras terhadap Beijing, termasuk Senator Florida Marco Rubio. Senator yang ditunjuk Trump sebagai menteri luar negerinya yang akan datang ini berada di bawah sanksi Beijing karena kritiknya yang blak-blakan terhadap kebijakan-kebijakan China.
Baca Juga: Pilot AS Bercerita Kehabisan Rudal saat Menghadapi Ratusan Drone Iran yang Menyerang Israel
Lihat Juga :