Pakar: Ancaman Tarif Trump Terhadap Negara BRICS Cuma Omong Kosong

Selasa, 03 Desember 2024 - 12:46 WIB
Berbicara di sidang pleno Valdai pada tanggal 7 November, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk membahas mata uang tunggal BRICS, karena negara-negara dalam kelompok tersebut belum menetapkan tujuan tersebut. Menurut pemimpin Rusia tersebut, untuk mempertimbangkan mata uang bersama, negara-negara BRICS perlu "mencapai integrasi ekonomi yang lebih besar" dan meningkatkan "kualitas ekonomi mereka ke tingkat yang sesuai dalam struktur, dan dalam kualitas ekonomi mereka secara keseluruhan."

Baca Juga: 8 Konsekuensi Negara-negara BRICS jika Nekat Meninggalkan Dolar AS

Kelompok BRICS dibentuk pada tahun 2006 oleh Brasil, Rusia, India, dan China. Afrika Selatan bergabung pada tahun 2011. Mesir, Iran, UEA, Arab Saudi, dan Ethiopia menjadi anggota kelompok tersebut pada tanggal 1 Januari 2024.Kemudian, pada KTT di Kazan, Rusia, sebanyak 13 negara diakui sebagai mitra BRICS, yakni Indonesia, Malaysia, Aljazair, Belarus, Bolivia, Kuba, Kazakhstan, Nigeria, Thailand, Turki, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam.

Dalam KTT di Kazan tersebut, maket mata uang BRICS secara simbolis diberikan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, yang mengindikasikan bahwa aliansi ini bertujuan untuk menantang dolar AS. Blok ini sebelumnya juga tegas menggaungkan keinginan untuk menggunakan mata uang bersama yang baru atau mata uang lokal untuk perdagangan dan sepenuhnya meninggalkan dolar AS.

Jika negara-negara BRICS tidak lagi menggunakan dolar AS dalam perdagangan, setidaknya3 sektor ekonomi di Negeri Paman Sam akanterkena dampak serius. Sektor-sektor keuangan utama AS yang dapat terpengaruh oleh pembentukan mata uang BRICS adalah perbankan dan keuangan, perdagangan dan Investasi internasional, serta barang-barang konsumen dan ritel.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!