Inflasi di Jakarta Naik Tinggi, Ini 3 Penyumbang Terbesarnya

Selasa, 03 Desember 2024 - 13:51 WIB
"Kenaikan harga daging ayam ras didorong oleh meningkatnya permintaan jelang HBKN Nataru 2024," terang Arlyana dalam siaran persnya, Senin (2/12/2024).

Selain itu kenaikan minyak goreng yang disebabkan harga Crude Palm Oil (CPO) global berdampak pada kenaikan harga domestik, termasuk di Jakarta. Sementara komoditas seperti cabai rawit, cabai merah, jeruk, dan daging sapi mengalami penurunan harga didukung oleh ketersediaan pasokan yang tetap terjaga.

Di sisi lain, sumbangan inflasi juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa yang mengalami inflasi sebesar 0,55% (mtm), sehingga menyumbang 0,04% terhadap inflasi Jakarta. "Inflasi pada kelompok ini terutama bersumber dari kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan berlanjutnya tren kenaikan harga emas global," tambahnya.

Kelompok lainnya yang menjadi penyumbang inflasi yaitu kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran dengan sumbangan inflasi sebesar 0,04%, utamanya didorong oleh kenaikan harga es dan kue kering berminyak.

Karenanya untuk mengendalikan inflasi, sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta yang semakin kuat. Selama November 2024, TPID Provinsi DKI Jakarta telah melakukan berbagai kegiatan dalam rangka pengendalian inflasi.

"Melalui urban farming Sudin KPKP Jakarta Timur dalam bentuk penanaman bersama benih cabai dan bawang merah serta panen serentak komoditas bawang merah di wilayah Jakarta Pusat dan menguatkan hilirisasi hasil produk pertanian melalui pelatihan pengolahan aneka cabai dan bawang yang diikuti oleh 80 UMKM/pelaku usaha," terangnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!