Kontribusi Grab untuk Ekosistem Transportasi Publik Terintegrasi DKI Jakarta
Senin, 31 Agustus 2020 - 22:52 WIB
Kita lihat, 73 persen komuter yang menggunakan ride-hailing memilih Grab. Ini tentu karena Grab bisa menyediakan solusi baik bagi konsumen maupun pemerintah. Foto/Dok
JAKARTA - Sistem transportasi massal Jabodetabek yang belum sepenuhnya terintegrasi membuat warga harus 'bersiasat' dengan pilihan angkutan yang efisien dari segi biaya dan waktu. Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyebutkan, 5,7 juta dari total 26,4 juta perjalanan harian di Ibu Kota menggunakan transportasi publik.
Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) dalam penelitian “Peran Transportasi Daring dalam Penggunaan Transportasi Massal: Gagasan Integrasi Antar Moda dalam Periode Adaptasi Kebiasaan Baru” mencoba mengeksplorasi bagaimana pilihan-pilihan moda komuter Jabodetabek dan menggali sejauh mana integrasi transportasi antar moda di Jabodetabek telah mampu menyediakan pilihan-pilihan agar masyarakat dapat beraktivitas sehari-hari secara efisien.
(Baca Juga: Kampanye Angkutan Umum, Pemerintah Gandeng Operator dan Ahli Transportasi )
Hasil penelitian tersebut dipaparkan dalam diskusi publik dengan Kementerian Perhubungan RI, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Dinas Perhubungan DKI Jakarta, TransJakarta pada akhir Juli lalu. Diskusi ini juga mengundang Grab Indonesia sebagai penyedia ride-hailing, atau yang lebih populer disebut 'transportasi online'.
Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) dalam penelitian “Peran Transportasi Daring dalam Penggunaan Transportasi Massal: Gagasan Integrasi Antar Moda dalam Periode Adaptasi Kebiasaan Baru” mencoba mengeksplorasi bagaimana pilihan-pilihan moda komuter Jabodetabek dan menggali sejauh mana integrasi transportasi antar moda di Jabodetabek telah mampu menyediakan pilihan-pilihan agar masyarakat dapat beraktivitas sehari-hari secara efisien.
(Baca Juga: Kampanye Angkutan Umum, Pemerintah Gandeng Operator dan Ahli Transportasi )
Hasil penelitian tersebut dipaparkan dalam diskusi publik dengan Kementerian Perhubungan RI, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Dinas Perhubungan DKI Jakarta, TransJakarta pada akhir Juli lalu. Diskusi ini juga mengundang Grab Indonesia sebagai penyedia ride-hailing, atau yang lebih populer disebut 'transportasi online'.
Lihat Juga :