Pengusaha Mal Nilai Insentif PPN 12% Belum Cukup Dongkrak Daya Beli
Jum'at, 27 Desember 2024 - 14:05 WIB
Alphonzus menilai periode triwulan pertama tahun depan diperkirakan masih cukup stabil karena adanya perayaan Tahun Baru, Imlek, Ramadan, dan Idul Fitri, yang berpeluang memacu aktivitas belanja. Sementara, tantangan besar justru muncul setelah Idul Fitri, yang menjadi awal fase awal low season.
Baca Juga: PMII Desak Kebijakan Kenaikan PPN 12% Dikaji Ulang
"Tren di Indonesia, setelah Idul Fitri biasanya masuk ke low season. Jangan sampai menjadi panjang sekaligus dalam, karena itu akan sangat mengkhawatirkan," ujarnya.
Menurut Alphoinzus, panjangnya periode low season di tahun depan adalah konsekuensi dari pergeseran kalender Ramadan. Kedalaman dampaknya terhadap daya beli dinilai perlu menjadi perhatian. Terlebih, depresiasi nilai tukar rupiah dan beragam tantangan makro global juga berpotensi menjadi beban.
"Sekarang sudah terasa nilai tukar sudah lebih dari Rp16.000 (per dolar AS), kebijakan Trump yang membatasi impor dari China, ini sebagian akan menyerbu Indonesia juga. Jadi saya kira itu semua yang harus kita antisipasi begitu di 2025," tandasnya.
Baca Juga: PMII Desak Kebijakan Kenaikan PPN 12% Dikaji Ulang
"Tren di Indonesia, setelah Idul Fitri biasanya masuk ke low season. Jangan sampai menjadi panjang sekaligus dalam, karena itu akan sangat mengkhawatirkan," ujarnya.
Menurut Alphoinzus, panjangnya periode low season di tahun depan adalah konsekuensi dari pergeseran kalender Ramadan. Kedalaman dampaknya terhadap daya beli dinilai perlu menjadi perhatian. Terlebih, depresiasi nilai tukar rupiah dan beragam tantangan makro global juga berpotensi menjadi beban.
"Sekarang sudah terasa nilai tukar sudah lebih dari Rp16.000 (per dolar AS), kebijakan Trump yang membatasi impor dari China, ini sebagian akan menyerbu Indonesia juga. Jadi saya kira itu semua yang harus kita antisipasi begitu di 2025," tandasnya.
(fjo)
Lihat Juga :