Efek FCTC Bikin Pelaku Industri Tembakau Was-was

Jum'at, 14 Maret 2025 - 21:58 WIB
"Kami berharap pemerintahan Prabowo dapat melihat dan menyadari betapa dorongan ratifikasi FCTC ini sangat tidak sesuai dengan situasi dan konteks yang ada di dalam negeri," katanya.

Ia juga menekankan, bahwa industri ini selaras dengan visi pemerintahan baru dalam mendorong kemandirian ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat. "Tembakau sebagai komoditas memiliki sejarah panjang serta merupakan penggerak ekonomi nasional yang harus dipertahankan," tambahnya.

Selain itu, keberadaan industri tembakau juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo, yang ingin mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, serta pemberantasan kemiskinan.

"Kami para petani adalah warga negara Indonesia yang hak hidupnya dilindungi sesuai UUD 1945, dan kami berharap pemerintah tidak melupakan kami dalam kebijakan-kebijakannya," tegas Mudi.

Dalam menghadapi tekanan global dan tuntutan untuk meratifikasi FCTC, Pemerintah Indonesia diharapkan dapat mempertimbangkan seluruh dampak yang mungkin timbul, baik dari sisi sosial dan ekonomi. Sebuah kebijakan yang terlalu terburu-buru dalam mengadopsi aturan asing dapat berisiko merugikan banyak pihak, termasuk jutaan pekerja tembakau yang bergantung pada sektor ini untuk kehidupan mereka.

Baca Juga: Bungkus Rokok Seragam, Pedagang Cemas Bakal Menggerus Pendapatan

Para petani tembakau di seluruh Indonesia berharap agar kebijakan terkait industri hasil tembakau bisa dilakukan dengan pendekatan win-win solution, di mana keseimbangan antara isu kesehatan masyarakat dan dampak ekonomi tetap terjaga.

"Semua harus berjalan beriringan. Pemerintah harus mampu menolak semua bentuk gerakan dan konspirasi dari mana pun yang berupaya menghancurkan kedaulatan negara ini," pungkas Mudi.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!