Barang Branded Laris Manis

Sabtu, 05 September 2020 - 06:12 WIB
Seperti dilansir dari Reebonz, situs belanja online terbesar di Asia, khusus untuk segmen produk fashion prestisius, item mode seperti sepatu menjadi pencarian belanja terfavorit para fashionista, yaitu sebesar 87%, lalu tas branded 56%, dan jam tangan 39%. (Baca: Usai Diperika Dewan Pengawas KPK, Firli Bahuri Memilih Bungkam)

Permintaan akan barang baru dari merek prestisius (blue chip brands) selalu tinggi dari tahun ke tahun, khususnya di market e-commerce. Tahun lalu saja total transaksi barang branded naik sekitar 37% dibandingkan periode sebelumnya, sedangkan total pembelanjaan tahun lalu bisa mencapai 50%.

Senior Marketing Manager Reebonz Indonesia Bernard Widjaja menjelaskan, segmentasi produk mode mewah di Asia, termasuk Indonesia, telah berevolusi dan tidak lagi hanya diminati segelintir kalangan. Di pasar Asia, salah satu blue chip brands yang masih menjadi primadona adalah Chanel. Namun, kini banyak juga konsumen yang mulai melirik produk-produk mewah dari label cult seperti Givenchy, Burberry, Valentino Garavani, Balenciaga, Saint Laurent, dan Tory Burch.

"Saat ini orang sudah tidak lagi terpaku pada popularitas brand demi kualitas dan eksklusivitas. Namun, brand Chanel masih mempertahankan statusnya sebagai yang tereksklusif. Karena itu, konsumen yang mendambakan naik ke level puncak hierarki produk mewah merasa tetap perlu memiliki brand Chanel dalam koleksinya," kata Bernard.

Selain Chanel, merek yang diakui memiliki nilai kemewahan dan masih sangat diburu, bahkan hingga barang bekasnya adalah Prada, LV, dan Hermes. Sederet brand ini berhasil menanamkan citra dan nilai brand ke dalam gaya hidup masyarakat elite.

Pengamat ekonomi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) bidang industri dan perdagangan Maxensius Tri Sambodo mengungkapkan, perilaku konsumen barang mode mewah di Asia kini telah bergeser. Jika dahulu para pemburunya lebih menyukai tantangan dan sejarahnya sendiri dalam mendapatkan barang mewah tersebut, kini generasi baru para pencinta barang branded lebih memilih membeli barang secara online atau mencari tahu lebih dalam tentang merek elite yang sudah mapan selama beberapa dekade. (Baca juga: Memanas, Rusia Bakal Gelar Latihan di Laut Mediterania)

"Bisa dikatakan sudah ada pergeseran persepsi konsumen yang kembali mempertanyakan makna dari sebuah produk mode mewah yang sejak lama menjadi indikator status sosial dan ekonomi," kata Maxensius.

Pertumbuhan tertinggi dari belanja dan transaksi produk mode high end di Asia saat ini dikuasai oleh pembeli dari Hong Kong dan Indonesia. Meski begitu, Singapura masih berada di posisi teratas dalam konsumsi barang mewah. "Konsumen Indonesia memiliki 44% kecenderungan lebih untuk membeli barang mewah. Indonesia masih berada di urutan ketiga dalam mengonsumsi barang mewah meskipun pemerintah telah memberlakukan regulasi pajak barang mewah yang cukup mahal namun tidak memengaruhi daya belinya," tambah Maxensius.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!