Barang Branded Laris Manis
Sabtu, 05 September 2020 - 06:12 WIB
Namun, menjadi barang mewah dan terfavorit tidak lantas menyelamatkan sederet brand high end tersebut dari serangan pandemi virus korona. Seperti dilansir dari Fashion Law, pendapatan untuk brand Belenciaga, Yves Saint Laurent, dan Bottega Veneta mengalami penurunan hingga 15,4% pada kuartal I 2020.
Sementara itu, brand Gucci mengalami penurunan hingga 23,2% dibandingkan kuartal I di 2019, yakni dari USD2,52 miliar menjadi USD1,96 miliar. (Baca juga: Jeli, Cara Selebriti Manfaatkan TikTok untuk Publikasi)
Meski begitu, koleksi dari brand premium ini seakan tidak sepi dari penggemarnya. Lantas, bagaimana pemerintah melihat masih tingginya minat barang premium di Indonesia.
Anggota DPR Komisi VI Rieke Diah Pitaloka memandang masih besarnya dominasi produk luar di beberapa pasar ritel dan digital karena karakteristik market Indonesia sendiri. Seperti behavior market yang masih skeptis dengan produk lokal walaupun sudah banyak produk lokal yang diakui kualitasnya di mancanegara.
Secara garis besar, ada dua karakteristik umum market Indonesia, yaitu suka merek luar dan sensitif terhadap harga. Meski begitu, beberapa produk lokal juga sudah menggeliat meski mereka harus berjuang keras untuk bersaing dengan produk luar. (Lihat videonya: Pekerja Diduga Lalai, Dua Bangunan Ruko Roboh)
"Seharusnya pemerintah bisa lebih proaktif dalam membantu produsen, terutama usaha mikro kecil menengah (UMKM) lewat insentif, keringanan pajak, permodalan, dan yang paling penting knowledge. Kalau pengetahuannya bagus, bukan tidak mungkin barang lokal kita lebih unggul di rumah sendiri," kata anggota DPR dari Fraksi PDIP tersebut. (Aprilia S Andyna)
Sementara itu, brand Gucci mengalami penurunan hingga 23,2% dibandingkan kuartal I di 2019, yakni dari USD2,52 miliar menjadi USD1,96 miliar. (Baca juga: Jeli, Cara Selebriti Manfaatkan TikTok untuk Publikasi)
Meski begitu, koleksi dari brand premium ini seakan tidak sepi dari penggemarnya. Lantas, bagaimana pemerintah melihat masih tingginya minat barang premium di Indonesia.
Anggota DPR Komisi VI Rieke Diah Pitaloka memandang masih besarnya dominasi produk luar di beberapa pasar ritel dan digital karena karakteristik market Indonesia sendiri. Seperti behavior market yang masih skeptis dengan produk lokal walaupun sudah banyak produk lokal yang diakui kualitasnya di mancanegara.
Secara garis besar, ada dua karakteristik umum market Indonesia, yaitu suka merek luar dan sensitif terhadap harga. Meski begitu, beberapa produk lokal juga sudah menggeliat meski mereka harus berjuang keras untuk bersaing dengan produk luar. (Lihat videonya: Pekerja Diduga Lalai, Dua Bangunan Ruko Roboh)
"Seharusnya pemerintah bisa lebih proaktif dalam membantu produsen, terutama usaha mikro kecil menengah (UMKM) lewat insentif, keringanan pajak, permodalan, dan yang paling penting knowledge. Kalau pengetahuannya bagus, bukan tidak mungkin barang lokal kita lebih unggul di rumah sendiri," kata anggota DPR dari Fraksi PDIP tersebut. (Aprilia S Andyna)
(ysw)
Lihat Juga :