Donald Trump Ngamuk, AS Gebuk China dengan Tarif 104%
Rabu, 09 April 2025 - 13:30 WIB
Sekarang dengan tarif tambahan 50% hari ini yang semata-mata hanya untuk China, Beijing sekarang menghadapi pungutan yang belum pernah terjadi sebelumnya sebesar 104% dengan kenaikan hampir 100% dalam waktu kurang dari seminggu.
Namun, Presiden Trump masih membuka pintu bagi Beijing untuk berdamai. Dalam sebuah postingan di platform media sosialnya, Truth Social, ia menulis, "China juga ingin membuat kesepakatan, sangat ingin, tetapi mereka tidak tahu bagaimana memulainya. Kami sedang menunggu panggilan mereka."
Baca Juga: AS dan China Saling Serang, Trump Ancam Gebuk Tarif Tambahan 50%
China menanggapi ultimatum Presiden Trump dengan menyebutnya sebagai pemerasan. "Ancaman AS untuk meningkatkan tarif terhadap China adalah kesalahan di atas kesalahan, yang sekali lagi mengekspos sifat pemerasan AS," ujar Kementerian Perdagangan China dalam sebuah pernyataan dikutip dari NDTV, Rabu (9/4/2025). "Jika AS bersikeras untuk mendapatkan caranya sendiri, China akan bertarung sampai akhir."
Saat ini dunia sedang menghadapi skenario yang tidak pasti akibat perang dagang dua negara dengan perekonomian terbesar dunia ini. Tidak ada pihak yang bisa berkedip karena pasar global telah mengalami kejatuhan terbesar sejak pandemi Covid-19.
Namun, Presiden Trump masih membuka pintu bagi Beijing untuk berdamai. Dalam sebuah postingan di platform media sosialnya, Truth Social, ia menulis, "China juga ingin membuat kesepakatan, sangat ingin, tetapi mereka tidak tahu bagaimana memulainya. Kami sedang menunggu panggilan mereka."
Baca Juga: AS dan China Saling Serang, Trump Ancam Gebuk Tarif Tambahan 50%
China menanggapi ultimatum Presiden Trump dengan menyebutnya sebagai pemerasan. "Ancaman AS untuk meningkatkan tarif terhadap China adalah kesalahan di atas kesalahan, yang sekali lagi mengekspos sifat pemerasan AS," ujar Kementerian Perdagangan China dalam sebuah pernyataan dikutip dari NDTV, Rabu (9/4/2025). "Jika AS bersikeras untuk mendapatkan caranya sendiri, China akan bertarung sampai akhir."
Saat ini dunia sedang menghadapi skenario yang tidak pasti akibat perang dagang dua negara dengan perekonomian terbesar dunia ini. Tidak ada pihak yang bisa berkedip karena pasar global telah mengalami kejatuhan terbesar sejak pandemi Covid-19.
(nng)
Lihat Juga :