Perang Dagang AS-China, Siapa yang Bakal Menang dan Berakhir Tumbang?

Jum'at, 11 April 2025 - 08:46 WIB
Profesor Ekonomi dari Universitas Peking, Yao Yang, juga menyuarakan kekhawatiran serupa. Ia menyebut, banyak industri ekspor China kini harus mengalihkan produk ke pasar domestik, yang bisa memperparah persaingan internal dan tekanan deflasi.

Baca Juga: Balas Amukan Trump, China Gebuk AS dengan Tarif 84%

Meski begitu, Yao menilai, pemerintah China masih memiliki banyak instrumen untuk menangani situasi ini. Ia mendorong peningkatan stimulus domestik dan dukungan terhadap daerah-daerah yang terlilit utang, terutama dalam menopang sektor properti. "Arah kebijakan pusat sudah benar, namun intensitasnya bisa ditingkatkan," tegasnya.

Sementara, AS dinilai masih memiliki keunggulan di sektor jasa dan finansial, terutama lewat dominasi dolar. Namun, Zheng menilai, posisi tersebut juga rentan jika AS terus memproduksi barang di dalam negeri dan menarik diri dari rantai pasok global. "Jika AS membuat segalanya sendiri, lalu kenapa negara lain butuh dolar?" ujarnya retoris.

Upaya AS untuk membentuk aliansi baru seperti Kerangka Kerja Ekonomi Indo-Pasifik juga dinilai belum efektif dalam mengucilkan China dari sistem ekonomi global.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!