Bisnis di Tengah Gejolak Global: Atur Ulang Strategi Akuisisi dan Retensi Pelanggan

Selasa, 29 April 2025 - 17:56 WIB
Ketegangan perdagangan membuat strategi bisnis mulai bergeser dari ekspansi agresif ke evaluasi manajemen proses bisnis yang lebih streamline, pendekatan yang lebih berorientasi efisiensi, loyalitas pelanggan. Foto/Dok
JAKARTA - Ketegangan perdagangan global kembali meningkat. Tarif impor baru dari Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah komoditas dan produk dari negara berkembang mendorong ketidakpastian ekonomi dan menekan daya saing bisnis.

Di tengah tekanan nilai tukar rupiah, perlambatan investasi pada teknologi, dan tingginya biaya operasional, bisnis dari berbagai sektor kini menghadapi dilema, untuk bagaimana tetap tumbuh tanpa harus membakar modal?



Baca Juga: WFH Saat Pandemi Corona, Mekari Beri Sejumlah Kemudahan

Situasi tersebut membuat strategi bisnis mulai bergeser dari ekspansi agresif ke evaluasi manajemen proses bisnis yang lebih streamline, pendekatan yang lebih berorientasi efisiensi, loyalitas pelanggan, dan ketahanan jangka panjang. Terutama dalam hal pengelolaan customer journey mulai dari akuisisi hingga retensi.

5 Insight Global yang Harus Diwaspadai Pebisnis Indonesia dalam Akuisisi & Retensi Pelanggan di 2025:

1. Biaya akuisisi pelanggan terus meningkat

Studi global menunjukkan Customer Acquisition Cost (CAC) melonjak lebih dari 60% dalam lima tahun terakhir. Pelanggan semakin selektif terhadap brand yang mereka pilih. Di saat yang sama, pasar customer engagement global juga terus berkembang, diprediksi naik dari USD22,3 miliar pada 2024 menjadi USD48,5 miliar di 2032. Hal ini menunjukkan urgensi untuk mengadopsi pendekatan akuisisi yang lebih efisien dan bernilai tinggi.

2. Loyalitas pelanggan semakin rapuh diera digital-first

Penelitian menunjukkan bahwa 80% konsumen lebih memilih brand yang memberikan pengalaman personalisasi. Namun sayangnya, banyak bisnis belum mampu memenuhi ekspektasi layanan yang cepat, personal, dan konsisten. Tanpa strategi engagement yang tepat, pelanggan mudah berpindah ke kompetitor hanya karena satu pengalaman buruk.

3. Fragmentasi channel masih menjadi hambatan besar

Banyak tim masih mengandalkan tools yang terpisah untuk marketing, sales, dan customer service. Akibatnya, data pelanggan tersebar, komunikasi terputus, dan respon lambat terhadap kebutuhan pelanggan menjadi tantangan harian. Padahal perusahaan dengan strategi omnichannel kuat mampu mempertahankan hingga 89% pelanggan mereka, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!