5 Bank Bangkrut di Amerika Serikat, Aset Terbesar Tembus Rp4.989 Triliun
Senin, 25 Agustus 2025 - 14:38 WIB
Tak lama sebelumnya, Silicon Valley Bank (SVB) juga ambruk pada 10 Maret 2023. Fokusnya pada sektor teknologi dan startup menjadikan SVB sangat rentan terhadap perubahan pasar. Dengan total aset mencapai USD209 miliar atau setara Rp3.397 triliun kegagalannya menjadi yang terbesar dalam 15 tahun terakhir hingga saat itu, sekaligus memicu kekhawatiran terhadap stabilitas keuangan global.
Dua hari setelah SVB, Signature Bank menyusul bangkrut pada 12 Maret 2023. Bank dengan aset sekitar USD110,4 atau setara Rp1.794 triliun ini terjerat masalah likuiditas, diperparah oleh eksposurnya yang tinggi pada pasar mata uang kripto yang tengah merosot tajam. Regulasi federal kemudian turun tangan untuk mengendalikan dampak kegagalan tersebut.
Jauh sebelum era digital, Continental Illinois National Bank and Trust Co. mencatat sejarah kegagalan pada 17 Mei 1984. Dengan aset USD41,4 miliar atau setara Rp673 triliun, bank ini mengalami krisis kepercayaan yang memicu aksi penarikan dana besar-besaran, hingga akhirnya ditutup dan diambil alih oleh pemerintah.
Baca Juga: Ada 3 Bank Bangkrut di Indonesia Sepanjang 2025, Ini Sebabnya
Serangkaian kegagalan ini menjadi pelajaran berharga bagi industri keuangan global. Dari krisis hipotek di 2008 hingga gejolak likuiditas pada 2023, setiap kasus mencerminkan rapuhnya stabilitas keuangan ketika manajemen risiko tidak berjalan efektif menghadapi perubahan ekonomi.
Dua hari setelah SVB, Signature Bank menyusul bangkrut pada 12 Maret 2023. Bank dengan aset sekitar USD110,4 atau setara Rp1.794 triliun ini terjerat masalah likuiditas, diperparah oleh eksposurnya yang tinggi pada pasar mata uang kripto yang tengah merosot tajam. Regulasi federal kemudian turun tangan untuk mengendalikan dampak kegagalan tersebut.
Jauh sebelum era digital, Continental Illinois National Bank and Trust Co. mencatat sejarah kegagalan pada 17 Mei 1984. Dengan aset USD41,4 miliar atau setara Rp673 triliun, bank ini mengalami krisis kepercayaan yang memicu aksi penarikan dana besar-besaran, hingga akhirnya ditutup dan diambil alih oleh pemerintah.
Baca Juga: Ada 3 Bank Bangkrut di Indonesia Sepanjang 2025, Ini Sebabnya
Serangkaian kegagalan ini menjadi pelajaran berharga bagi industri keuangan global. Dari krisis hipotek di 2008 hingga gejolak likuiditas pada 2023, setiap kasus mencerminkan rapuhnya stabilitas keuangan ketika manajemen risiko tidak berjalan efektif menghadapi perubahan ekonomi.
Lihat Juga :