Apakah BRICS Bakal Berkembang Pesat di Tengah Intimidasi AS?

Sabtu, 06 September 2025 - 20:00 WIB
Mantan pejabat perdagangan India, Ajay Srivastava, menilai langkah Trump justru memberi BRICS alasan bersama untuk mengurangi ketergantungan terhadap AS. "Tarif tambahan ini membuat BRICS punya insentif kolektif untuk memperkuat kerja sama meski agenda tiap negara berbeda," ujarnya dikutip dari DW, Sabtu (6/9).

Kebijakan tarif itu mendorong anggota BRICS memperluas perjanjian perdagangan bilateral dengan mata uang nasional, serta meningkatkan pembelian emas sebagai upaya dedolarisasi. Ironisnya, meski Trump menyebut "BRICS sudah mati", sejumlah pengamat menilai kebijakan tersebut justru menyatukan kelompok dengan kepentingan yang sebelumnya beragam.

Kolumnis Max Boot dari Council on Foreign Relations bahkan menyebut Trump melakukan "malpraktik strategis" karena "menyatukan kawan dan lawan AS" melalui kebijakan perdagangannya. Hal itu tercermin dari semakin eratnya hubungan Brasil, India, dan Afrika Selatan dengan China maupun Rusia.

Pertemuan trilateral Presiden China Xi Jinping, Perdana Menteri India Narendra Modi, dan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela KTT Shanghai Cooperation Organization (SCO) di Tianjin pekan ini menandai mencairnya hubungan di antara tiga kekuatan utama BRICS. Modi, yang baru pertama kali berkunjung ke China setelah tujuh tahun, menekankan pentingnya kerja sama multipolar di bidang perdagangan, energi, dan keamanan kawasan.

Momentum tersebut akan berlanjut dalam KTT virtual BRICS pada Senin mendatang yang dipimpin Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva. Pertemuan itu akan membahas langkah bersama menghadapi tarif AS serta memperluas perdagangan dengan mata uang lokal.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!