Xi Jinping dan Putin Hadiri KTT Virtual BRICS Bahas Tarif Trump, Modi Absen
Selasa, 09 September 2025 - 07:36 WIB
Momen keakraban tersebut sempat dianggap sebagai sinyal menguatnya hubungan India dengan China dan Rusia di tengah kebijakan proteksionisme Trump yang memicu ketegangan perdagangan global.
Menurut sumber dari New Delhi, ketidakhadiran Modi merupakan bagian dari upaya "balancing act" atau tindakan penyeimbangan politik luar negeri India. Langkah ini dinilai strategis, terutama setelah partisipasi Modi dalam KTT SCO mendapatkan sorotan. New Delhi berupaya menjaga keseimbangan hubungan, baik dengan Amerika Serikat maupun dengan blok BRICS.
Pemerintahan Trump telah mengenakan tarif impor sebesar 50% terhadap produk India. Angka ini terdiri dari 25% tarif resiprokal dan 25% sisanya merupakan sanksi tambahan karena India membeli minyak dari Rusia. India menganggap tarif tambahan untuk impor minyak tersebut tidak adil, berargumen bahwa New Delhi telah "diperlakukan tidak adil" sementara Tiongkok, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa lainnya masih terus berdagang dengan Moskow.
KTT virtual BRICS kali ini diprakarsai oleh Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva. Tujuan utamanya adalah untuk mendiskusikan kebijakan tarif Trump. Namun, pejabat Brasil menekankan bahwa Lula ingin diskusi tersebut diperluas, tidak hanya membahas tarif, tetapi juga membangun konsensus di antara negara-negara ekonomi berkembang utama dalam blok BRICS untuk mendukung multilateralisme. Meskipun demikian, mereka menegaskan Brasil tidak ingin pertemuan ini menjadi platform yang secara eksplisit anti-Amerika Serikat.
Baca Juga: Apakah Keinginan Presiden Xi Jinping dan Putin Hidup hingga 150 Tahun Bisa Terwujud?
Brasil sedang menghadapi ketegangan serupa dengan Washington. Pada Juli lalu, Trump mengancam akan menaikkan tarif terhadap Brasil jika Mahkamah Agung negara tersebut tidak menghentikan persidangan mantan Presiden Jair Bolsonaro terkait tuduhan kudeta. Saat ini, Brasil dikenakan tarif 50%, meskipun AS memberikan pengecualian untuk beberapa komoditas seperti pesawat terbang dan jus jeruk.
Menurut sumber dari New Delhi, ketidakhadiran Modi merupakan bagian dari upaya "balancing act" atau tindakan penyeimbangan politik luar negeri India. Langkah ini dinilai strategis, terutama setelah partisipasi Modi dalam KTT SCO mendapatkan sorotan. New Delhi berupaya menjaga keseimbangan hubungan, baik dengan Amerika Serikat maupun dengan blok BRICS.
Pemerintahan Trump telah mengenakan tarif impor sebesar 50% terhadap produk India. Angka ini terdiri dari 25% tarif resiprokal dan 25% sisanya merupakan sanksi tambahan karena India membeli minyak dari Rusia. India menganggap tarif tambahan untuk impor minyak tersebut tidak adil, berargumen bahwa New Delhi telah "diperlakukan tidak adil" sementara Tiongkok, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa lainnya masih terus berdagang dengan Moskow.
KTT virtual BRICS kali ini diprakarsai oleh Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva. Tujuan utamanya adalah untuk mendiskusikan kebijakan tarif Trump. Namun, pejabat Brasil menekankan bahwa Lula ingin diskusi tersebut diperluas, tidak hanya membahas tarif, tetapi juga membangun konsensus di antara negara-negara ekonomi berkembang utama dalam blok BRICS untuk mendukung multilateralisme. Meskipun demikian, mereka menegaskan Brasil tidak ingin pertemuan ini menjadi platform yang secara eksplisit anti-Amerika Serikat.
Baca Juga: Apakah Keinginan Presiden Xi Jinping dan Putin Hidup hingga 150 Tahun Bisa Terwujud?
Brasil sedang menghadapi ketegangan serupa dengan Washington. Pada Juli lalu, Trump mengancam akan menaikkan tarif terhadap Brasil jika Mahkamah Agung negara tersebut tidak menghentikan persidangan mantan Presiden Jair Bolsonaro terkait tuduhan kudeta. Saat ini, Brasil dikenakan tarif 50%, meskipun AS memberikan pengecualian untuk beberapa komoditas seperti pesawat terbang dan jus jeruk.
Lihat Juga :