Cerita Prabowo Mewarisi Pemikiran Ekonomi Sang Ayah Sumitro Djojohadikusumo
Kamis, 16 Oktober 2025 - 09:20 WIB
"Saat itu, jujur saja, sebagian besar pemimpin negara-negara Asia dan Afrika, para elite, merupakan penganut sosialis, karena saat itu, Sosialisme, faktanya bahkan Marxisme, Komunisme, merupakan gerakan yang menentang kolonialisme, dan imperialisme. Saya pikir itu juga yang membuat banyak gerakan pemuda di Asia dan Afrika sayap kiri, Sosialis, Komunis. Ayah saya pun seorang Sosialis pada masa mudanya, dia memimpin Partai Sosialis Indonesia," tambah Prabowo.
Namun, kata Prabowo, pandangan ekonomi Sumitro berkembang setelah ditugaskan ke New York untuk mewakili Indonesia di Markas Besar PBB. Di sana, Sumitro berinteraksi dengan para ekonom dan pebisnis Amerika Serikat yang berpandangan kapitalis namun tetap berjiwa anti-imperialis.
"Amerika saat itu ada di garda terdepan untuk memaksa negara-negara kolonialis untuk de-kolonisasi. Saya pikir, ayah saya itu, dan dia mendapat banyak bantuan dari banyak pemimpin-pemimpin usaha di AS," jelasnya.
Dari pengalaman itu, lanjutnya, Sumitro menjadi lebih moderat dan terbuka terhadap pemikiran ekonomi pasar bebas. Ia menyimpulkan bahwa Indonesia membutuhkan sistem ekonomi campuran yang menggabungkan keunggulan sosialisme dan kapitalisme.
"Ketika dia (Sumitro) kembali ke tanah air, (pemikiran) dia menjadi lebih seimbang, tentunya arah pemikirannya berkiblat pada Sosialisme, tetapi dia memahami ada poin penting dari Kapitalisme dan Pasar Bebas. Saat itu, saya masih muda, saya bertanya kepada ayah saya: Apa sistem ekonomi terbaik menurutmu? Dia jawab: Sebenarnya, sistem ekonomi terbaik untuk kita, Indonesia, merupakan sistem ekonomi campuran, kita harus mengambil yang terbaik dari Sosialisme, dan yang terbaik dari Kapitalisme," ujar Prabowo.
Namun, kata Prabowo, pandangan ekonomi Sumitro berkembang setelah ditugaskan ke New York untuk mewakili Indonesia di Markas Besar PBB. Di sana, Sumitro berinteraksi dengan para ekonom dan pebisnis Amerika Serikat yang berpandangan kapitalis namun tetap berjiwa anti-imperialis.
"Amerika saat itu ada di garda terdepan untuk memaksa negara-negara kolonialis untuk de-kolonisasi. Saya pikir, ayah saya itu, dan dia mendapat banyak bantuan dari banyak pemimpin-pemimpin usaha di AS," jelasnya.
Dari pengalaman itu, lanjutnya, Sumitro menjadi lebih moderat dan terbuka terhadap pemikiran ekonomi pasar bebas. Ia menyimpulkan bahwa Indonesia membutuhkan sistem ekonomi campuran yang menggabungkan keunggulan sosialisme dan kapitalisme.
"Ketika dia (Sumitro) kembali ke tanah air, (pemikiran) dia menjadi lebih seimbang, tentunya arah pemikirannya berkiblat pada Sosialisme, tetapi dia memahami ada poin penting dari Kapitalisme dan Pasar Bebas. Saat itu, saya masih muda, saya bertanya kepada ayah saya: Apa sistem ekonomi terbaik menurutmu? Dia jawab: Sebenarnya, sistem ekonomi terbaik untuk kita, Indonesia, merupakan sistem ekonomi campuran, kita harus mengambil yang terbaik dari Sosialisme, dan yang terbaik dari Kapitalisme," ujar Prabowo.
Lihat Juga :