Menuju Peluncuran Mata Uang Bersama di 2026, BRICS Masih Terbelah
Minggu, 04 Januari 2026 - 08:10 WIB
Infrastruktur pendukung pun menjadi persoalan besar. Untuk menyimpan sekitar 6.000 metrik ton emas yang menjadi basis aset, diperlukan fasilitas penyimpanan aman berkapasitas sekitar 300 meter kubik dengan biaya pemeliharaan tahunan yang diperkirakan mencapai 579 hingga USD965 juta. Rencana implementasi yang ada saat ini dinilai belum mengakomodasi kebutuhan logistik dan keamanan yang sangat krusial ini.
Vasily Zhabykin, salah satu penulis white paper Unit, berusaha meluruskan misi proyek ini. "Unit dirancang untuk meningkatkan efisiensi arus modal yang saat ini tidak berfungsi optimal, tidak hanya menjadi 'pembunuh dolar'. Ia lebih merupakan obat bagi kanker sentralisasi," ujarnya. Namun, narasi ini perlu dibuktikan dengan kesiapan teknis dan politik yang lebih mapan.
Tantangan lain yang tak kalah pelik adalah perbedaan struktur ekonomi yang sangat tajam di antara kelima negara anggota. Mulai dari ekonomi terkendali negara ala China, demokrasi dengan kontrol modal moderat di India, Rusia yang terbebani sanksi internasional, volatilitas nilai tukar di Brasil, hingga pengangguran struktural di Afrika Selatan. Tanpa mekanisme yang mampu menjembatani perbedaan ini, sistem moneter bersama akan sulit diwujudkan.
Menyikapi kompleksitas tantangan ini, banyak bank sentral dan pengamat bersikap sangat hati-hati. Sebagaimana ditegaskan ekonom Rusia Yevgeny Biryukov, emas bagi BRICS lebih merupakan alat perlindungan dari risiko sanksi dan aset berharga yang diakui secara global. Implementasi penuh mata uang bersama BRICS diperkirakan kecil kemungkinannya terwujud sebelum tahun 2030, bahkan tidak menutup kemungkinan proyek ini mengalami penundaan lebih lanjut jika hambatan-hambatan mendasar tidak segera diatasi.
Vasily Zhabykin, salah satu penulis white paper Unit, berusaha meluruskan misi proyek ini. "Unit dirancang untuk meningkatkan efisiensi arus modal yang saat ini tidak berfungsi optimal, tidak hanya menjadi 'pembunuh dolar'. Ia lebih merupakan obat bagi kanker sentralisasi," ujarnya. Namun, narasi ini perlu dibuktikan dengan kesiapan teknis dan politik yang lebih mapan.
Tantangan lain yang tak kalah pelik adalah perbedaan struktur ekonomi yang sangat tajam di antara kelima negara anggota. Mulai dari ekonomi terkendali negara ala China, demokrasi dengan kontrol modal moderat di India, Rusia yang terbebani sanksi internasional, volatilitas nilai tukar di Brasil, hingga pengangguran struktural di Afrika Selatan. Tanpa mekanisme yang mampu menjembatani perbedaan ini, sistem moneter bersama akan sulit diwujudkan.
Menyikapi kompleksitas tantangan ini, banyak bank sentral dan pengamat bersikap sangat hati-hati. Sebagaimana ditegaskan ekonom Rusia Yevgeny Biryukov, emas bagi BRICS lebih merupakan alat perlindungan dari risiko sanksi dan aset berharga yang diakui secara global. Implementasi penuh mata uang bersama BRICS diperkirakan kecil kemungkinannya terwujud sebelum tahun 2030, bahkan tidak menutup kemungkinan proyek ini mengalami penundaan lebih lanjut jika hambatan-hambatan mendasar tidak segera diatasi.
(nng)
Lihat Juga :