Tensi Geopolitik Memanas, Dolar AS Kembali Jadi Primadona
Minggu, 25 Januari 2026 - 08:08 WIB
Tekanan terhadap mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk rupiah dipicu oleh ketegangan geopolitik global yang memanas. Foto/Dok
JAKARTA - Nilai tukar rupiah menunjukkan sedikit napas lega pada pembukaan perdagangan Jumat (23/1) dan tercatat menguat ke level Rp16.820 per dolar AS (USD) pada penutupan perdagangan. Meski mengalami penguatan tipis, posisi pupiah dinilai masih rawan karena berada sangat dekat dengan batas psikologis kritis Rp17.000 per dolar AS.
Praktisi Pasar Modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, dipicu oleh ketegangan geopolitik global yang memanas. Kondisi ini memaksa investor asing untuk menarik modalnya dan mencari perlindungan pada aset aman (safe haven) dalam bentuk dolar AS.
Baca Juga: Ambruknya Rupiah dan Lonceng Chaos
Praktisi Pasar Modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, dipicu oleh ketegangan geopolitik global yang memanas. Kondisi ini memaksa investor asing untuk menarik modalnya dan mencari perlindungan pada aset aman (safe haven) dalam bentuk dolar AS.
Baca Juga: Ambruknya Rupiah dan Lonceng Chaos
Lihat Juga :