Tensi Geopolitik Memanas, Dolar AS Kembali Jadi Primadona
Minggu, 25 Januari 2026 - 08:08 WIB
“Karena emerging market dianggap lebih berisiko, duitnya balik ke USD. Sehingga rupiah kita melemah,” kata Hans Kwee dalam Edukasi Wartawan Pasar Modal di Jakarta.
Menghadapi volatilitas nilai tukar dan pasar keuangan, Hans Kwee menyarankan para investor untuk lebih jeli dalam menyusun strategi. Ia merekomendasikan peralihan sementara ke instrumen yang lebih defensif seperti pasar uang atau obligasi untuk menjaga stabilitas portofolio.
Namun bagi investor saham, fluktuasi ini justru dipandang sebagai kesempatan untuk akumulasi. Hans menekankan pentingnya berfokus pada perusahaan dengan fundamental kuat dan pertumbuhan tinggi, namun tidak lagi mengejar harga yang sangat murah (undervalued) mengingat kondisi pasar yang sedang bullish.
Baca Juga: Mitigasi Pelemahan Rupiah, BI Cari Cara Kurangi Ketergantungan Dolar AS
“Kita harus membeli perusahaan yang potensi growth-nya tinggi, tapi pada fair price, harga yang fair. Jadi dalam market yang bull seperti ini, kalau kita mengharapkan membeli saham pada under value yang ter-discount tinggi, itu agak sulit terjadi. Jadi kita beli di fair price dengan potensi pertumbuhan tinggi,” imbuhnya.
Menghadapi volatilitas nilai tukar dan pasar keuangan, Hans Kwee menyarankan para investor untuk lebih jeli dalam menyusun strategi. Ia merekomendasikan peralihan sementara ke instrumen yang lebih defensif seperti pasar uang atau obligasi untuk menjaga stabilitas portofolio.
Namun bagi investor saham, fluktuasi ini justru dipandang sebagai kesempatan untuk akumulasi. Hans menekankan pentingnya berfokus pada perusahaan dengan fundamental kuat dan pertumbuhan tinggi, namun tidak lagi mengejar harga yang sangat murah (undervalued) mengingat kondisi pasar yang sedang bullish.
Baca Juga: Mitigasi Pelemahan Rupiah, BI Cari Cara Kurangi Ketergantungan Dolar AS
“Kita harus membeli perusahaan yang potensi growth-nya tinggi, tapi pada fair price, harga yang fair. Jadi dalam market yang bull seperti ini, kalau kita mengharapkan membeli saham pada under value yang ter-discount tinggi, itu agak sulit terjadi. Jadi kita beli di fair price dengan potensi pertumbuhan tinggi,” imbuhnya.
Lihat Juga :