Pemerintah Hadapi Beban Utang Baru Rp1.650 Triliun, Risiko Gagal Bayar di Depan Mata
Senin, 26 Januari 2026 - 09:07 WIB
Sementara itu, penyerapan domestik mulai menunjukkan tanda kejenuhan. Data per 20 Januari 2026 menunjukkan, Bank Indonesia telah memegang SBN sebesar Rp1.646,41 triliun (24,81% dari total), posisi yang sangat signifikan. Perbankan juga telah memegang Rp1.339,98 triliun (20,22%).
Baca Juga: Defisit APBN 2025 Melebar Tembus Rp695,1 Triliun, Dekati Batas 3% dari PDB
Di sisi lain, kontribusi SBN ritel relatif terbatas, hanya 8,09%, karena minat masyarakat individu lebih mengarah pada aset aman seperti emas dan valuta asing. Menggambarkan tingkat ancaman, Awalil menempatkan dampak buruk dari risiko ini pada skala 4 (Tinggi), sementara kemungkinan terjadinya (likelihood) juga naik ke level 4 (Sangat Mungkin Terjadi).
Analisis ini menyiratkan bahwa tanpa langkah strategis dan disiplin fiskal yang lebih ketat, pemerintah berpotensi mengalami kesulitan signifikan dalam mengamankan pembiayaan sebesar Rp1.650 triliun tersebut. Keberhasilan mengelola risiko ini akan menjadi kunci utama bagi keberlanjutan dan stabilitas APBN 2026.
Baca Juga: Defisit APBN 2025 Melebar Tembus Rp695,1 Triliun, Dekati Batas 3% dari PDB
Di sisi lain, kontribusi SBN ritel relatif terbatas, hanya 8,09%, karena minat masyarakat individu lebih mengarah pada aset aman seperti emas dan valuta asing. Menggambarkan tingkat ancaman, Awalil menempatkan dampak buruk dari risiko ini pada skala 4 (Tinggi), sementara kemungkinan terjadinya (likelihood) juga naik ke level 4 (Sangat Mungkin Terjadi).
Analisis ini menyiratkan bahwa tanpa langkah strategis dan disiplin fiskal yang lebih ketat, pemerintah berpotensi mengalami kesulitan signifikan dalam mengamankan pembiayaan sebesar Rp1.650 triliun tersebut. Keberhasilan mengelola risiko ini akan menjadi kunci utama bagi keberlanjutan dan stabilitas APBN 2026.
(nng)
Lihat Juga :