Menangkap Peluang Relokasi Pabrik dari China dengan Permudah Investasi
Kamis, 17 September 2020 - 09:03 WIB
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan investor tidak usah pusing dengan perizinan. “Jadi kita bisa bersaing dengan negara lain, para investor asing dan lokal yang ingin masuk sudah tidak perlu lagi pusing membebaskan tanah. Karena tanahnya sudah tersedia, langsung diurus BKPM, dan sudah disiapkan,” ujar Erick. (Baca juga: Ketika Tukang Gade Cari Utangan Buat Nambah Modal)
Dia mencontohkan dukungan pemerintah dalam menarik investasi tersebut terlihat dari masifnya pembangunan kawasan investasi di Batang, Jawa Tengah. Sepanjang 4.000 lahan dihubungkan langsung dengan infrastruktur pendukung seperti jalan, listrik, dan sumber air.
“Supply chain dilakukan, tapi kita tidak mau jadi menara gading, tetap kita bangun ekosistem yang baik dengan swasta. Karena itu dalam penugasan kita banyak juga mendukung program yang harus dilakukan pembangunan kawasan industri Batang,” sebutnya.
Erick menambahkan, perbaikan yang dilakukan pemerintah tidak hanya untuk jangka pendek, tetapi juga untuk menjamin masuknya investasi jangka panjang, terutama dalam masa pandemi saat ini.
Bahkan pemerintah berencana memberikan subsidi biaya sewa tanah selama 10 tahun di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, dalam skema tersebut para investor yang menggunakan KIT Batang tidak akan membayar sewa selama 10 tahun ke depan. Langkah itu sekaligus menjawab mahalnya tanah bagi industri di dalam negeri.
“Pemerintah akan memberikan insentif, kemungkinan besar untuk penggunaan lahannya itu 10 tahun free charge, nggak perlu menyewa 10 tahun. Kami percaya ini akan membuat calon investor tertarik masuk ke Indonesia,” ujar Menperin Agus. (Baca juga: Kasus Corona Terus Meningkat, Penerapan PSBB Dinilai Pilihan Bijak)
Dia menyebutkan, pemerintah telah menyiapkan secara khusus KIT Batang. Kesiapan itu didasari penilaian sejumlah pihak bahwa kawasan tersebut layak digunakan sebagai investasi di sektor industri yang memiliki tingkat risiko rendah.
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan saat ini Indonesia sudah menjadi tujuan relokasi pabrik-pabrik perusahaan besar asal China. Padahal, sebelumnya, perusahaan-perusahaan besar lebih memilih merelokasi pabriknya ke Vietnam.
“Dulu tahun 2018–2019, tidak ada perusahaan yang merelokasi pabriknya dari China ke Indonesia, semuanya ke Vietnam. Sekarang sudah 7, kemarin sudah diresmikan dan nantinya ada 17 perusahaan yang sudah 70–80% potensinya akan masuk,” ujar Bahlil.
Dia mencontohkan dukungan pemerintah dalam menarik investasi tersebut terlihat dari masifnya pembangunan kawasan investasi di Batang, Jawa Tengah. Sepanjang 4.000 lahan dihubungkan langsung dengan infrastruktur pendukung seperti jalan, listrik, dan sumber air.
“Supply chain dilakukan, tapi kita tidak mau jadi menara gading, tetap kita bangun ekosistem yang baik dengan swasta. Karena itu dalam penugasan kita banyak juga mendukung program yang harus dilakukan pembangunan kawasan industri Batang,” sebutnya.
Erick menambahkan, perbaikan yang dilakukan pemerintah tidak hanya untuk jangka pendek, tetapi juga untuk menjamin masuknya investasi jangka panjang, terutama dalam masa pandemi saat ini.
Bahkan pemerintah berencana memberikan subsidi biaya sewa tanah selama 10 tahun di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, dalam skema tersebut para investor yang menggunakan KIT Batang tidak akan membayar sewa selama 10 tahun ke depan. Langkah itu sekaligus menjawab mahalnya tanah bagi industri di dalam negeri.
“Pemerintah akan memberikan insentif, kemungkinan besar untuk penggunaan lahannya itu 10 tahun free charge, nggak perlu menyewa 10 tahun. Kami percaya ini akan membuat calon investor tertarik masuk ke Indonesia,” ujar Menperin Agus. (Baca juga: Kasus Corona Terus Meningkat, Penerapan PSBB Dinilai Pilihan Bijak)
Dia menyebutkan, pemerintah telah menyiapkan secara khusus KIT Batang. Kesiapan itu didasari penilaian sejumlah pihak bahwa kawasan tersebut layak digunakan sebagai investasi di sektor industri yang memiliki tingkat risiko rendah.
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan saat ini Indonesia sudah menjadi tujuan relokasi pabrik-pabrik perusahaan besar asal China. Padahal, sebelumnya, perusahaan-perusahaan besar lebih memilih merelokasi pabriknya ke Vietnam.
“Dulu tahun 2018–2019, tidak ada perusahaan yang merelokasi pabriknya dari China ke Indonesia, semuanya ke Vietnam. Sekarang sudah 7, kemarin sudah diresmikan dan nantinya ada 17 perusahaan yang sudah 70–80% potensinya akan masuk,” ujar Bahlil.
Lihat Juga :