Mengapa Toko Fisik Tetap Relevan di Tengah Pertumbuhan E-Commerce? Ini Alasannya

Rabu, 25 Februari 2026 - 14:38 WIB
Dalam praktiknya, toko fisik tidak difungsikan sebagai etalase konvensional, melainkan sebagai ruang untuk memastikan keputusan belanja. Konsumen memulai proses secara digital, lalu menggunakan toko sebagai tempat untuk mengecek dan meyakinkan diri sebelum melanjutkan transaksi. Model ini menunjukkan bahwa fungsi utama toko fisik bukan lagi sekadar menjual, tetapi memberi rasa aman dalam mengambil keputusan. Baca juga: Tren Belanja Lebaran 2026 Diprediksi Berubah, Makin Hemat dan Terukur

Metode “Click and Collect” hingga “Pick-up In Store” yang Kian Ramai

Laporan e-Conomy SEA dari Google, Temasek, dan Bain & Company (seperti edisi 2022-2024) menyoroti bahwa dalam tiga hingga empat tahun terakhir (terutama pasca-pandemi), konsumen Asia Tenggara semakin menuntut fleksibilitas belanja. Konsumen kini mengadopsi pendekatan hybrid atau omnichannel yang menyatukan pengalaman online dan offline (O2O) secara mulus. Meski tergolong pendekatan baru, dalam praktik e-commerce sendiri model hybdrid justru telah lama dijalankan oleh Jaknot.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa model seperti ini membantu mengurangi friksi, baik dari sisi waktu tunggu maupun ketidakpastian produk. Oleh karena itu semakin terlihat meningkatnya minat terhadap opsi seperti click-and-collect atau pick-up in store, konsumen memesan secara online dan mengambil barang secara langsung, seperti yang dilakukan di Jaknot. Konsumen diberikan kebebasan untuk belanja dan melihat langsung produk yang dibeli.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!